Apa Itu Digital Native? Pengertian, Perkembangan, dan Dampaknya

Informasi / 0 | | 1

Pernahkah Anda mendengar istilah digital native? Istilah ini kini menjadi perbincangan di kalangan pebisnis dan pegiat teknologi. Mereka adalah bagian dari kemajuan teknologi yang pesat saat ini. 

Apa sebenarnya digital native itu? Bagaimana perkembangan mereka dan apa pengaruhnya bagi bisnis dan teknologi? Dalam artikel ini Anda akan memahaminya lebih luas. Mulai dari pengertian, sejarah, potensi, hingga dampaknya. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini, ya. 

Apa Itu Digital Native?

Secara umum, digital native adalah sebutan untuk orang-orang yang lahir dan tumbuh di era digital. Sehingga, mereka sudah berinteraksi dengan teknologi sejak usia dini dan sangat mahir menggunakannya.

Para digital native sangat up-to-date dan akrab dengan berbagai istilah dunia digital. Karena mereka berkembang di era digital, mereka tumbuh dewasa tak lepas dari teknologi. Sehingga, mereka sudah sangat terbiasa menggunakan teknologi dan cenderung sulit hidup tanpanya. 

Teknologi berkembang semakin pesat dari tahun ke tahun dan mempengaruhi berbagai bidang di dunia. Mulai dari perdagangan, pendidikan, kesehatan, media, dan lain-lain. Digital native tumbuh di era yang seperti itu dan sudah sangat nyaman menggunakan teknologi di berbagai bidang kehidupan mereka. Digital native yang pertama adalah generasi millenial, kemudian diikuti oleh Gen Z dan generasi-generasi setelahnya. 

Walaupun memahami teknologi, digital native merujuk pada mereka sebagai pengguna saja. Ini tidak berarti mereka mengerti pemrograman komputer atau proses jaringan secara umum. Namun, mereka lebih mudah mempelajarinya karena sudah akrab dengan teknologi sejak mereka masih kecil. 

Perkembangan Digital Native

Istilah digital native sebenarnya sudah digunakan sejak lebih dari 20 tahun lalu, lho. Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah ini adalah Marc Prensky dalam artikelnya “Digital Natives, Digital Immigrants” yang terbit pada tahun 2001. Sebenarnya, artikel tersebut membahas tentang sistem pendidikan Amerika Serikat dan siswa modern yang akrab dengan teknologi. 

Dalam artikelnya, Prensky mengatakan bahwa para guru harus dapat menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan mulai menggunakan media belajar berbasis teknologi. Hal ini lebih menarik bagi siswa dan dapat membantu mereka memahami lebih baik proses dan manfaat teknologi informasi.

Sebenarnya, Prensky dalam artikel tersebut menjelaskan para siswa yang lahir sekitar tahun 1990-an dan akhir 1980-an, yang merupakan generasi millenial saat ini. Namun, seiring perkembangannya, istilah digital native juga menuai banyak kritikan dan diperbaiki persepsinya.

Bahkan, Marc Prensky sendiri mengoreksi bahwa istilah ini sebaiknya tidak hanya ditujukan pada generasi tertentu saja karena akan menyebabkan kesenjangan antar generasi. Maka saat ini istilah digital native bisa berarti orang dari generasi manapun, asalkan akrab dengan teknologi sejak usia yang sangat muda. 

Potensi Konflik Generasi Digital Native

digital native adalah

Perkembangan teknologi mendorong generasi digital native berkembang pula. Namun, ternyata perubahan yang mereka bawa tidak bisa diterima oleh semua kalangan, terutama mereka yang kurang akrab dengan teknologi sebelumnya. 

Generasi yang lebih tua belum semuanya mampu mengadopsi teknologi dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari mereka. Kondisi ini tentunya mendorong munculnya konflik antar generasi, yang berdasarkan pada perbedaan dari masing-masing generasi untuk memahami teknologi. 

  1. Lingkungan Kerja

Tidak semua generasi terbiasa menggunakan teknologi, khususnya generasi yang lebih tua dan sudah lama mulai bekerja. Generasi yang lebih tua ini disebut sebagai imigran digital, mereka tidak mengenal teknologi sejak usia dini dan baru mulai menggunakannya ketika beranjak dewasa. Selama mereka tumbuh, segala bidang masih dilakukan secara manual. 

Konflik muncul karena digital native dan imigran digital memiliki pandangan yang berbeda dalam menangani sebuah masalah di lingkungan kerja. Digital native cenderung lebih mengandalkan teknologi dan berfokus menghasilkan output yang maksimal dengan mudah dan efisien. Sementara itu, imigran digital masih terbiasa melakukan segalanya secara manual dan mengedepankan kerja keras.

  1. Lingkungan Keluarga

Digital native mampu menyerap banyak informasi dengan cepat melalui internet. Mereka dapat belajar banyak hal lebih mudah dibandingkan orangtuanya dulu. Bagi sebagian orang tua, media sosial dan internet cenderung dipandang negatif karena dikhawatirkan dapat membawa dampak buruk bagi anak-anak mereka. 

Padahal, segala yang ada di internet dapat membawa dampak baik jika kita mengerti bagaimana memanfaatkannya untuk hal-hal positif. 

Perbedaan pemahaman ini berpotensi menimbulkan konflik antara anak dan orangtua dalam keluarga. Keterbatasan orangtua dalam menyerap informasi dan menggunakan teknologi juga bisa membuat mereka melihat teknologi dengan cara yang berbeda dengan anak-anak mereka. 

  1. Lingkungan Pendidikan

Salah satu bidang yang paling terpengaruh oleh teknologi adalah bidang pendidikan. Terutama saat pandemi seperti tahun 2020 dimana sekolah-sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring. Peran teknologi dalam bidang pendidikan sudah membuat pembelajaran semakin efisien dan canggih. 

Saat ini, banyak aplikasi yang membantu para siswa untuk belajar. Selain itu, para guru juga harus beradaptasi dengan teknologi karena semua proses manajemen pendidikan saat ini dilakukan secara digital. 

Media pembelajaran multimedia juga mampu menunjang proses pembelajaran di sekolah. Karena penyajian materi jadi lebih menarik dan interaktif, sehingga murid-murid lebih mudah dan betah memahaminya.

Para guru yang merupakan imigran digital tentunya mengalami keterbatasan dalam memahami teknologi. Hal ini menimbulkan konflik karena para guru ini mungkin agak sulit menyampaikan ilmunya kepada para murid yang merupakan digital native. 

Bagi para murid, teknologi adalah sesuatu yang memudahkan pekerjaan dan membuat pembelajaran jadi lebih menarik. Sementara itu, bagi para guru, teknologi adalah hal yang rumit untuk dipelajari dan justru menyusahkan mereka dalam kegiatan belajar mengajar. 

Dampak Digital Native Terhadap Bisnis

Karena akrab dengan teknologi, ketika dihadapkan oleh sebuah masalah maka para digital native cenderung memikirkan teknologi seperti apa yang bisa mereka gunakan untuk mengatasinya. Sudah banyak penelitian terkait cara berpikir digital native ini, mereka memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang yang tidak bergelut dengan teknologi sejak lahir. 

Karakteristik digital native yang unik ini tentunya berdampak bagi banyak bidang, termasuk bisnis dan pemasaran. Mereka bahkan mempromosikan diri dalam proses rekrutmen, sesuatu yang jarang dilakukan oleh generasi sebelum mereka.

 Digital native tahu bagaimana caranya membangun personal branding dan menjalin relasi dengan orang-orang di dunia maya. Mereka juga dapat menggunakan internet untuk menyerap banyak informasi dan belajar banyak hal. Ini membuat digital native melahirkan banyak ide cemerlang dalam dunia bisnis dan teknologi. 

Penutup

Demikianlah penjelasan tentang digital native, mulai dari pengertian, perkembangan, konflik, hingga pengaruh digital native terhadap bisnis. Memahami digital native dan cara pikirnya sangat penting bagi Anda sebagai pemilik bisnis. Seperti yang kita ketahui, digital native ini kebanyakan sedang berada di usia produktif dan merupakan konsumen potensial bagi produk Anda. Dengan memahami mereka, Anda bisa lebih mudah membuat produk dan strategi marketing yang relevan. 

 

Related Post :