Load Balancing : Sejarah Singkat dan Cara Kerjanya

Development & Security, Web Security / 0 | | 0

Semakin hari, semakin ada banyak situs web dan aplikasi yang bermunculan demi mengakomodir kebutuhan masyarakat era modern. Ini tidak terlepas dari cara hidup yang mulai cepat dan serba online sehingga semua yang berada didalamnya juga harus turut bergerak cepat. Seperti situs web e-commerce yang mempunyai lalu lintas tinggi yang harus melayani ratusan ribu hingga jutaan permintaan serentak dari pengguna atau klien dengan berbagai konten dituntut untuk tetap bisa beroperasi dengan cepat dan andal.

Karena itu untuk dapat menskalakan secara hemat biaya untuk memenuhi volume tinggi ini, praktik terbaik komputasi modern umumnya memerlukan penambahan lebih banyak server. Adanya load balancing bertindak sebagai polisi lalu lintas yang secara kiasan bekerja dengan duduk di depan server Anda dan merutekan permintaan klien di semua server yang mampu memenuhi permintaan tersebut. Termasuk dengan cara yang memaksimalkan kecepatan dan pemanfaatan kapasitas demi memastikan bahwa tidak ada server yang bekerja terlalu keras, yang dapat menurunkan kinerja .

Jadi jika satu server mati, maka load balancer akan membantu dengan mengalihkan lalu lintas ke server online yang tersisa. Ketika server baru ditambahkan ke grup server, penyeimbang beban atau load balancer akan secara otomatis mulai mengirim permintaan ke sana. Mari simak apa yang dimaksud dengan load balancing yang awalnya dimulai pada tahun 1990-an sebagai peralatan perangkat keras yang mendistribusikan lalu lintas di seluruh jaringan ini.

 

Mengenal Sejarah Singkat Load Balancing

Dikenal sebagai peralatan perangkat keras mendistribusikan lalu lintas di seluruh jaringan, load balancing telah umum digunakan pada 1990-an. Dari tahun- tahun itu, teknologi internet dan konektivitas meningkat pesat sehingga membuat aplikasi dan web menjadi lebih kompleks dimana tuntutannya melebihi kemampuan server individu. Kendala ini menimbulkan kebutuhan untuk menemukan cara yang lebih baik untuk menerima banyak permintaan untuk sumber daya yang serupa dan mendistribusikannya secara efektif di seluruh server.

Jawaban dari ini semua akhirnya bisa dijawab oleh load balancer atau penyeimbang beban yang sesuai namanya telah memungkinkan aplikasi dan situs web untuk menghindari ketergantungan pada server individu, ini juga membantu dalam penskalaan aplikasi ini dengan mudah melampaui apa yang dapat didukung oleh satu server saja. Maka dari menjadi alat penyeimbang, load balancer juga mengembangkan fungsi- fungsi lain termasuk kemampuan untuk memeriksa kesehatan server, distribusi cerdas berdasarkan konten aplikasi dan fungsi khusus lainnya.

 

Baca Juga  :   Cara Setup Website 2 Region Menggunakan Load Balancer di Cloud VPS

 

 

Memahami Cara Kerja Load Balancing

Load Balancing : Sejarah Singkat dan Cara Kerjanya
 

Jenis load balancer sendiri dapat berupa perangkat keras dalam jaringan atau dapat berupa proses yang ditentukan perangkat lunak murni. Tetapi apa pun bentuknya, semuanya bekerja dengan menyalurkan lalu lintas jaringan ke server web yang berbeda berdasarkan berbagai kondisi untuk mencegah kelebihan beban satu server. Secara analogi, load balancing bekerja sebagai polisis lalu lintas yang bekerja dengan mengarahkan lalu lintas padat ke jalur yang tidak terlalu ramai untuk menghindari kemacetan.

Begitu juga load balancer yang bekerja secara efektif mengelola aliran informasi yang lancar antara server aplikasi dan perangkat titik akhir seperti PC, laptop, atau tablet. Sedangkan server yang dimaksud dapat berada di lokasi, di pusat data, atau juga di cloud. Tanpa adanya load balancing sebagai penyeimbang atau polisi lalu lintas di antara trafik yang padat, maka masing-masing server dapat kewalahan dan aplikasi dapat menjadi tidak responsif, yang menyebabkan penundaan respons, pengalaman penggunaan yang buruk dan hilangnya pendapatan bagi e-commerce yang selalu mempunyai trafik padat setiap waktunya.

 

Baca Juga  :   Failover Cluster VS Load Balancing

 

Jenis Trafik yang Ditangani Load Balancing

Di zaman dimana situs web harus beroperasi tanja jeda dan cela, maka load balancing bisa dikatakan menjadi penyelamat yang baik. Alat ini menjadi komponen kunci dari infrastruktur yang sangat tersedia yang biasa digunakan untuk meningkatkan kinerja dan keandalan situs web, aplikasi, database, dan layanan lainnya dengan mendistribusikan beban kerja di beberapa server. Infrastruktur web tanpa load balancing mungkin terlihat sederhana maka jika ada beban yang memberatkan, ini akan menimbulkan kendala dan kerugian. Administrator load balancing sendiri membuat aturan penerusan untuk empat jenis lalu lintas utama, yaitu :

  • HTTP

    Cara kerja penyeimbangan HTTP standar mengarahkan permintaan berdasarkan mekanisme HTTP standar. Load Balancer menyetel header X-Forwarded-For, X-Forwarded-Proto, dan X-Forwarded-Port untuk memberikan informasi backend tentang permintaan asli.

  • HTTPS

    Sedangkan fungsi penyeimbangan HTTPS kurang lebih sama dengan penyeimbangan HTTP hanya saja dengan tambahan enkripsi. Enkripsi ditangani dengan salah satu dari dua cara baik itu dengan passthrough SSL yang mempertahankan enkripsi sampai ke backend atau dengan penghentian SSL yang menempatkan beban dekripsi pada penyeimbang beban tetapi mengirimkan lalu lintas yang tidak terenkripsi ke back end.

  • TCP

    Untuk aplikasi yang tidak menggunakan HTTP atau HTTPS, lalu lintas TCP juga dapat diseimbangkan. Misalnya, lalu lintas ke cluster database dapat tersebar di semua server.

  • UDP

    Baru-baru ini, beberapa load balancer telah menambahkan dukungan untuk protokol internet inti penyeimbang beban seperti DNS dan syslogd yang menggunakan jenis trafik UDP.

 

Baca Juga  :    Proxy Server : Cara Kerja, Kelebihan dan Kekurangannya

 

Manfaat Penggunaan Load Balancing

Load Balancing : Sejarah Singkat dan Cara Kerjanya
 

Bekerja sebagai penyeimbang yang bisa mengarahkan trafik, load balancing akan mendistribusikan lalu lintas jaringan yang masuk di antara beberapa server dan sumber daya. Cara ini adalah cara terbaik yang membantu memastikan bahwa tidak ada satu server pun yang terlalu banyak bekerja sehingga akan mempengaruhi situs web. Selain itu load balancing juga mempunyai dapat mencegah perlambatan situs web, permintaan akses yang tiba- tiba dibatalkan hingga server mogok. Berikut beberapa manfaat lain jika sebuah situs web yang sibuk menempatkan load balancer diantara mereka :

  • Mengurangi waktu henti
  • Dapat di skalakan
  • Redundansi
  • Fleksibilitas
  • Efisiensi

 

Baca Juga  :   Cari Tahu Teknologi Hebat Linux Load Balancing!

 

Kesimpulan dan Penutup

Situs web saat ini selalu dituntut untuk cepat tanggap, dengan sedikit keterlambatan dalam akses bahkan bisa dibuka dengan cepat dari perangkat apa saja. Belum lagi trafik kunjungan yang tinggi dengan permintaan beragam bisa membuat situs web menjadi lambat bahkan hingga sulit diakses. Oleh karenanya dibutuhkan adanya penyeimbang atau load balancer yang bekerja sebagai polisi lalu lintas untuk mengarahkan setiap trafik agar menjadi lancar.

Jadi load balancer akan bekerja dengan cara menangani permintaan masuk dari pengguna untuk informasi dan layanan lainnya. Penyeimbang ini akan duduk di antara server yang menangani permintaan tersebut dan internet. Setelah permintaan diterima, penyeimbang beban pertama-tama menentukan server mana dalam kumpulan yang tersedia dan online dan kemudian mengarahkan permintaan ke server itu.

Selama masa beban berat, load balancer dapat secara dinamis menambahkan server sebagai respons terhadap lonjakan lalu lintas. Sebaliknya, mereka dapat menjatuhkan server jika permintaan rendah. Penyeimbang ini sendiri dapat berupa alat fisik, perangkat lunak, atau kombinasi keduanya yang mana setiap jaringan dan situs web yang berkembang pasti akan membutuhkan bantuan load balancer ini demi menjaga trafik dan bisnis mereka untuk tetap stabil.

Related Post :