Menjalankan aplikasi membutuhkan lebih dari sekadar menulis kode. Anda juga perlu menyiapkan server, mengatur resource, melakukan pemeliharaan, dan memastikan aplikasi tetap berjalan ketika jumlah pengguna meningkat.
Bagi developer, berbagai pekerjaan tersebut dapat menyita waktu. Fokus yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan fitur aplikasi bisa beralih ke pengelolaan infrastruktur.
Teknologi serverless menawarkan pendekatan yang lebih praktis. Dengan teknologi ini, Anda tetap dapat menjalankan aplikasi di cloud tanpa harus mengelola server secara langsung. Penyedia cloud akan menangani sebagian besar kebutuhan infrastruktur, termasuk penyediaan resource dan scaling.
Lantas, bagaimana sebenarnya teknologi serverless bekerja? Apakah aplikasi benar-benar tidak menggunakan server dan apakah biayanya memang mengikuti penggunaan? Mari simak penjelasannya.
Baca Juga : 7 Hal Wajib Diperhatikan Sebelum Memilih Provider Colocation Server
Apa Itu Serverless?
Serverless adalah model pengembangan dan menjalankan aplikasi yang memungkinkan developer menggunakan infrastruktur cloud tanpa perlu mengelola server secara langsung. Istilah serverless memang bisa terdengar membingungkan. Aplikasi tetap membutuhkan server untuk menjalankan kode dan memproses permintaan. Perbedaannya terletak pada siapa yang mengelola server tersebut.
Dalam model serverless, penyedia cloud bertanggung jawab atas infrastruktur yang menjalankan aplikasi. Anda tidak perlu mengatur server fisik atau virtual secara langsung, termasuk menangani berbagai pekerjaan operasional pada infrastruktur tersebut. Dengan begitu, developer dapat lebih fokus pada kode dan fitur aplikasi. Sementara itu, pengelolaan infrastruktur dilakukan oleh penyedia layanan cloud.
Bagaimana Cara Kerja Serverless?
Pada model server tradisional, aplikasi biasanya ditempatkan pada server dengan kapasitas tertentu. Anda perlu menentukan spesifikasi server berdasarkan perkiraan kebutuhan aplikasi. Jika jumlah pengguna meningkat, kapasitas server mungkin perlu ditambah.
Sebaliknya, ketika trafik rendah, sebagian kapasitas yang tersedia bisa saja tidak digunakan. Serverless menggunakan pendekatan yang lebih dinamis. Sistem menjalankan kode aplikasi segera setelah permintaan atau peristiwa tertentu memicu prosesnya. Selanjutnya, penyedia cloud menyediakan resource komputasi untuk menyelesaikan proses tersebut.
Sebagai contoh, sebuah aplikasi memiliki fitur untuk memproses gambar setelah pengguna melakukan upload. Saat pengguna berhasil mengunggah gambar, peristiwa tersebut memicu fungsi khusus untuk mengubah ukuran atau memproses gambar secara otomatis.
Setelah tugas selesai, fungsi tidak harus terus berjalan. Resource dapat dikurangi ketika sudah tidak dibutuhkan, sesuai dengan mekanisme layanan yang digunakan.
Pengembang mengenali pola ini sebagai arsitektur event-driven. Sistem menjalankan fungsi aplikasi berdasarkan berbagai pemicu (events), seperti permintaan pengguna, unggahan berkas, atau aktivitas dari layanan lain. Penyedia cloud menerapkan model ini pada layanan serverless seperti AWS Lambda.
Bagaimana Serverless Menyesuaikan Kapasitas?
Serverless memiliki kemampuan untuk menyesuaikan kapasitas berdasarkan kebutuhan aplikasi. Saat trafik meningkat, resource dapat bertambah untuk menangani permintaan yang masuk. Ketika penggunaan menurun, resource juga dapat dikurangi kembali.
Pada layanan tertentu, fitur scale to zero bahkan mematikan seluruh instance ketika aplikasi tidak menerima permintaan. Langkah ini memangkas resource aktif secara signifikan untuk menghemat biaya operasional.
Kemampuan tersebut membuat serverless menarik untuk aplikasi dengan trafik yang tidak selalu stabil. Anda tidak perlu mempertahankan kapasitas maksimum sepanjang waktu hanya untuk mengantisipasi lonjakan penggunaan yang belum tentu terjadi.
Cloud Run merupakan salah satu layanan yang menerapkan mekanisme autoscaling tersebut. Sistem menyesuaikan kapasitas secara otomatis mengikuti jumlah permintaan yang masuk dan memangkas instance hingga nol saat aplikasi tidak aktif, sesuai konfigurasi yang Anda terapkan.
Meski begitu, scaling otomatis tetap perlu dikendalikan. Anda dapat menggunakan pengaturan seperti jumlah instance minimum dan maksimum pada layanan yang mendukungnya. Pengaturan tersebut membantu menyesuaikan performa sekaligus menjaga penggunaan resource tetap terkendali.
Baca Juga : Mengenal Cloud-Native AI dan Cara Membangun Aplikasi AI yang Skalabel

Apakah Serverless Berarti Bayar Sesuai Penggunaan?
Pengembang sering mengaitkan serverless dengan model pembayaran berdasarkan penggunaan (pay-as-you-go). Konsep ini menyesuaikan biaya secara langsung dengan resource terpakai, mengikuti mekanisme pricing dari layanan pilihan Anda.
Penyedia cloud menghitung penggunaan fungsi serverless berdasarkan jumlah request dan durasi eksekusinya. Artinya, semakin banyak permintaan yang Anda proses atau semakin lama fungsi tersebut berjalan, semakin besar pula konsumsi resource-nya.
Model seperti ini diterapkan pada AWS Lambda. Biaya layanan tersebut dipengaruhi oleh jumlah request dan durasi eksekusi fungsi. Layanan lain menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda. Pada Cloud Run, misalnya, biaya dapat dihitung berdasarkan resource seperti CPU dan memori yang digunakan ketika container berjalan.
Layanan ini juga mendukung scale to zero sehingga aplikasi tidak harus memiliki instance aktif ketika tidak ada traffic. Model pembayaran seperti ini dapat menguntungkan aplikasi dengan pola penggunaan yang berubah-ubah. Anda tidak harus menyediakan kapasitas penuh sepanjang waktu jika aplikasi hanya membutuhkan resource pada waktu tertentu.
Namun, perlu diingat bahwa serverless tidak selalu berarti lebih murah. Jika aplikasi menerima banyak permintaan secara terus-menerus, penggunaan resource juga meningkat. Kenaikan penggunaan aplikasi dapat meningkatkan biaya operasional secara langsung. Oleh karena itu, Anda tetap perlu menganalisis pola trafik, kebutuhan aplikasi, dan struktur harga layanan sebelum memilih arsitektur serverless.
Apa Saja Keuntungan Teknologi Serverless?
Setelah memahami cara kerja dan model pembayarannya, serverless memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menarik untuk kebutuhan aplikasi tertentu.
1. Mengurangi Pengelolaan Infrastruktur
Anda tidak perlu mengelola server secara langsung untuk menjalankan aplikasi. Penyedia cloud menangani sebagian besar pekerjaan provisioning dan pemeliharaan infrastruktur. Langkah ini memungkinkan developer memangkas waktu operasional sehingga mereka dapat lebih fokus mengembangkan fitur dan performa aplikasi.
2. Scaling Lebih Praktis
Serverless dapat menyesuaikan resource dengan jumlah permintaan yang masuk. Ketika trafik meningkat, kapasitas dapat bertambah. Saat penggunaan menurun, resource dapat dikurangi kembali. Kemampuan ini sangat berguna untuk aplikasi yang memiliki trafik tidak stabil atau mengalami lonjakan penggunaan pada waktu tertentu.
3. Biaya Dapat Mengikuti Penggunaan
Layanan serverless tertentu menggunakan model pay-per-use. Anda membayar berdasarkan resource yang digunakan, bukan sekadar menyediakan kapasitas server dalam jumlah tertentu. Model ini dapat membantu mengurangi resource yang menganggur. Namun, penggunaan tetap perlu dipantau agar biaya tidak meningkat tanpa disadari.
4. Developer Lebih Fokus pada Aplikasi
Berkurangnya pekerjaan pengelolaan server memberikan lebih banyak waktu bagi developer untuk mengembangkan fitur dan meningkatkan aplikasi. Pendekatan ini membantu tim bekerja lebih cepat karena mereka tidak perlu mengelola kebutuhan infrastruktur secara manual pada tingkat server.
Apa Kekurangan Serverless?
Meskipun menawarkan banyak kemudahan, serverless tetap memiliki beberapa keterbatasan. Karena itu, teknologi ini tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk semua aplikasi.
1. Kontrol Infrastruktur Lebih Terbatas
Kemudahan serverless berarti Anda menyerahkan sebagian pengelolaan infrastruktur kepada penyedia cloud. Akibatnya, kontrol terhadap sistem operasi dan konfigurasi server menjadi lebih terbatas dibandingkan VPS atau server sendiri. Jika aplikasi membutuhkan konfigurasi lingkungan yang sangat spesifik, pendekatan tersebut mungkin kurang sesuai.
2. Dapat Mengalami Cold Start
Fungsi yang menganggur dalam periode tertentu memicu proses inisialisasi ulang saat menerima permintaan baru. Komunitas developer mengenal fenomena penundaan awal ini sebagai cold start. Proses tersebut dapat menambah waktu respons pada permintaan tertentu. Dampaknya memang bervariasi, tetapi Anda tetap perlu mengantisipasi hal ini pada aplikasi yang membutuhkan waktu respons sangat cepat (latency-sensitive).
3. Biaya Tetap Perlu Dikontrol
Pembayaran berdasarkan penggunaan bukan berarti biaya dapat dibiarkan tanpa pengawasan. Ketika jumlah permintaan dan penggunaan resource meningkat, tagihan juga dapat bertambah. Monitoring dan pengaturan batas penggunaan dapat membantu Anda menjaga resource tetap sesuai kebutuhan.
4. Bergantung pada Platform Cloud
Layanan serverless biasanya memiliki fitur dan konfigurasi khusus dari masing-masing penyedia cloud. Semakin banyak Anda memanfaatkan fitur khusus, semakin besar kemungkinan aplikasi membutuhkan penyesuaian saat berpindah ke platform lain. Oleh karena itu, tim pengembang sebaiknya mempertimbangkan portabilitas sejak awal pembuatan aplikasi.
Kapan Serverless Cocok Digunakan?
Serverless paling menarik untuk aplikasi yang memiliki proses berdasarkan permintaan atau peristiwa tertentu. Model ini menjalankan fungsi aplikasi hanya saat ada kebutuhan tanpa perlu mempertahankan server aktif untuk setiap proses. Beberapa contoh penggunaan serverless antara lain:
- API dan backend aplikasi web.
- Pemrosesan file setelah upload.
- Otomatisasi proses tertentu.
- Pemrosesan data berdasarkan event.
- Aplikasi dengan trafik yang berubah-ubah.
- Backend untuk aplikasi mobile.
- Integrasi antar layanan.
- Proses yang berjalan secara berkala.
Pendekatan event-driven membuat serverless cocok untuk pekerjaan yang tidak harus berjalan terus-menerus. Saat peristiwa tertentu terjadi, sistem langsung menjalankan fungsi yang relevan untuk menyelesaikan proses tersebut.
Sebaliknya, aplikasi yang membutuhkan proses berjalan terus-menerus, konfigurasi server khusus, atau kontrol penuh terhadap sistem operasi mungkin lebih sesuai menggunakan VPS atau server dedicated.
Baca Juga : 7 Tips Mengamankan Server Proxmox dari Ancaman Siber
Penutup
Serverless adalah pendekatan cloud yang memungkinkan Anda menjalankan aplikasi tanpa mengelola server secara langsung. Penyedia cloud menangani infrastruktur dan scaling, sementara developer dapat lebih fokus pada pengembangan aplikasi.
Model ini juga dapat menggunakan pembayaran berdasarkan penggunaan. Meski begitu, serverless tidak selalu lebih murah dan tidak cocok untuk semua jenis aplikasi.
Jika Anda membutuhkan kontrol lebih besar terhadap lingkungan server, Cloud VPS dapat menjadi alternatif. IDCloudHost menyediakan Cloud VPS dengan pilihan resource yang dapat anda sesuaikan dengan kebutuhan aplikasi dan bisnis Anda.