Pembaruan aplikasi diperlukan untuk menghadirkan fitur baru, memperbaiki bug, dan meningkatkan keamanan. Namun, proses update juga berisiko mengganggu layanan jika aplikasi harus berhenti sementara atau versi baru mengalami masalah setelah dirilis.
Salah satu strategi untuk mengurangi risiko tersebut adalah rolling deployment. Metode ini memperbarui instance aplikasi secara bertahap sehingga sebagian instance lain tetap dapat melayani permintaan pengguna selama proses berlangsung.
Apa Itu Rolling Deployment?
Rolling deployment adalah strategi deployment yang mengganti instance aplikasi versi lama dengan versi baru secara bertahap. Alih-alih memperbarui seluruh instance sekaligus, sistem menjalankan versi baru sedikit demi sedikit sambil mempertahankan instance lama yang masih dibutuhkan.
Strategi ini umum digunakan pada aplikasi yang berjalan di beberapa instance atau container. Kubernetes, misalnya, mendukung mekanisme rolling update untuk mengganti Pod lama dengan Pod baru secara bertahap.
Bayangkan sebuah aplikasi memiliki empat instance yang melayani permintaan pengguna. Ketika tim merilis versi baru, sistem dapat menjalankan instance terbaru terlebih dahulu. Setelah instance tersebut siap, sistem melanjutkan penggantian instance lainnya hingga seluruh aplikasi menggunakan versi baru.
Dengan pendekatan ini, tim dapat memperbarui aplikasi tanpa harus menghentikan seluruh instance secara bersamaan. Namun, keberhasilan proses tetap bergantung pada kapasitas layanan, konfigurasi deployment, dan kesiapan versi baru.
Baca juga: Optimalkan Bisnis Anda dengan Managed Kubernetes IDCloudHost
7 Kelebihan Rolling Deployment untuk Update Aplikasi
Rolling deployment menawarkan beberapa keuntungan bagi tim pengembang, terutama ketika aplikasi perlu diperbarui secara berkala tanpa mengganggu layanan secara menyeluruh.
1. Mengurangi risiko downtime
Salah satu kelebihan utama rolling deployment adalah kemampuannya mempertahankan layanan selama proses pembaruan. Instance lama masih dapat melayani permintaan ketika instance baru mulai dijalankan.
Pendekatan ini membantu mengurangi risiko downtime, terutama pada aplikasi yang harus tetap tersedia selama proses rilis. Meski demikian, rolling deployment tidak otomatis menjamin nol downtime. Tim perlu memastikan instance baru siap menerima trafik sebelum instance lama dihentikan.
2. Menggunakan resource secara lebih efisien
Rolling deployment dapat mengurangi kebutuhan resource tambahan karena sistem mengganti instance secara bertahap, bukan selalu menjalankan dua lingkungan aplikasi lengkap secara bersamaan.
Meski begitu, proses deployment tetap dapat membutuhkan kapasitas ekstra untuk menjalankan instance baru sebelum instance lama dihentikan. Karena itu, tim perlu memperhitungkan kebutuhan CPU, RAM, dan resource lain agar aplikasi tidak kekurangan kapasitas selama pembaruan.
3. Memudahkan pemantauan versi baru
Karena pembaruan berlangsung secara bertahap, tim dapat memantau kondisi instance baru sebelum melanjutkan penggantian instance lainnya. Tim dapat memeriksa tingkat error, waktu respons, dan penggunaan resource untuk memastikan versi terbaru berjalan dengan baik.
Jika muncul masalah, tim memiliki kesempatan untuk menghentikan proses rollout sebelum seluruh instance menggunakan versi yang bermasalah.
4. Membatasi dampak kegagalan deployment
Jika versi baru mengalami masalah, dampaknya dapat dibatasi pada instance yang sudah diperbarui selama instance lama masih berfungsi dengan baik.
Sebagai contoh, ketika instance baru gagal memproses permintaan tertentu, tim dapat menghentikan rollout dan melakukan pemeriksaan sebelum melanjutkan pembaruan. Namun, dampak sebenarnya tetap bergantung pada konfigurasi trafik, jumlah instance, dan jenis kegagalan yang terjadi.
5. Mendukung pembaruan aplikasi secara berkelanjutan
Aplikasi bisnis sering menerima pembaruan untuk memperbaiki bug, menambah fitur, atau meningkatkan keamanan. Rolling deployment membantu tim merilis perubahan secara bertahap tanpa harus menghentikan seluruh layanan setiap kali melakukan update.
Pendekatan ini cocok untuk tim yang mengembangkan aplikasi secara rutin. Dengan proses rilis yang terencana, tim dapat menjaga aplikasi tetap diperbarui sekaligus mempertahankan ketersediaan layanan.
6. Mempermudah penghentian dan pemulihan rollout
Jika platform yang digunakan mendukungnya, tim dapat menghentikan proses deployment ketika menemukan masalah. Tim juga dapat menjalankan rollback untuk mengembalikan aplikasi ke versi sebelumnya.
Kemampuan ini membantu tim merespons kegagalan lebih cepat. Namun, rollback tidak selalu membatalkan seluruh perubahan secara otomatis, terutama jika versi baru sudah mengubah struktur database atau format data. Karena itu, prosedur pemulihan tetap perlu direncanakan dan diuji.
7. Menjaga pengalaman pengguna selama pembaruan
Pengguna tidak harus selalu mengalami gangguan ketika aplikasi menerima versi baru. Selama instance yang tersedia masih memiliki kapasitas cukup dan proses pengalihan trafik berjalan dengan benar, pengguna dapat terus mengakses fungsi aplikasi yang diperlukan.
Misalnya, aplikasi layanan digital dapat memperbarui backend secara bertahap ketika pengguna masih mengakses layanan. Dengan demikian, tim dapat melakukan pemeliharaan dan pengembangan tanpa harus selalu menjadwalkan penghentian layanan secara menyeluruh.
Baca juga: Apa Itu Continuous Integration dan Continuous Deployment ? – IDCloudHost
Cara Kerja Rolling Deployment

Rolling deployment berjalan melalui beberapa tahap. Detail implementasinya bergantung pada platform yang digunakan, tetapi prinsip dasarnya adalah mengganti instance lama secara bertahap sambil menjaga kapasitas layanan.
1. Menyiapkan versi aplikasi terbaru
Tim pengembang menyiapkan versi aplikasi yang sudah melalui proses build dan pengujian. Pada lingkungan berbasis container, versi terbaru biasanya tersedia sebagai image yang akan digunakan oleh instance baru.
Sebelum deployment dimulai, tim perlu memastikan konfigurasi aplikasi, dependensi, dan kebutuhan resource sudah sesuai. Tahap ini membantu mengurangi risiko kegagalan saat versi baru mulai dijalankan.
2. Menjalankan instance baru
Sistem mulai membuat instance menggunakan versi aplikasi terbaru. Instance tersebut perlu melewati pemeriksaan kesiapan sebelum menerima permintaan pengguna.
Pada Kubernetes, mekanisme seperti readiness probe dapat membantu menentukan apakah sebuah Pod siap menerima trafik. Pemeriksaan ini perlu dirancang sesuai kondisi aplikasi agar sistem tidak menganggap instance yang belum siap sebagai instance yang sehat.
3. Mengalihkan trafik secara bertahap
Setelah instance baru siap, sistem dapat mengarahkan permintaan ke instance tersebut. Instance lama tetap berjalan selama masih dibutuhkan untuk menjaga kapasitas layanan.
Proses ini berulang sampai jumlah instance baru memenuhi konfigurasi yang ditentukan. Pengaturan seperti maxSurge dan maxUnavailable pada Kubernetes membantu menentukan berapa banyak instance tambahan yang boleh dibuat dan berapa banyak instance yang boleh tidak tersedia selama rolling update.
4. Menghentikan instance lama
Setelah instance baru berjalan dengan baik dan kapasitas layanan mencukupi, sistem menghentikan instance lama secara bertahap.
Tim tetap perlu memantau error, waktu respons, dan penggunaan resource selama proses berlangsung. Jika muncul masalah, tim dapat menghentikan atau membatalkan rollout sesuai kemampuan platform dan prosedur yang telah disiapkan.
Hal yang Perlu Diperhatikan saat Menerapkan Rolling Deployment
Walaupun memiliki sejumlah kelebihan, rolling deployment tetap membutuhkan perencanaan. Tanpa konfigurasi yang tepat, proses pembaruan justru dapat menimbulkan gangguan.
1. Pastikan kapasitas aplikasi mencukupi
Aplikasi harus memiliki instance yang cukup untuk melayani permintaan selama proses penggantian berlangsung. Jika seluruh instance digunakan pada kapasitas maksimum, penghentian sebagian instance dapat menyebabkan penurunan performa. Karena itu, evaluasi beban kerja dan resource sebelum memulai deployment. Atur jumlah replika serta batas instance yang tidak tersedia sesuai kebutuhan aplikasi.
2. Jaga kompatibilitas antar versi
Selama rolling deployment, versi lama dan versi baru dapat berjalan secara bersamaan untuk sementara waktu. Keduanya harus tetap kompatibel dengan database, API, dan format data yang digunakan.
Misalnya, perubahan skema database yang langsung menghapus kolom lama dapat membuat instance versi sebelumnya gagal bekerja ketika masih menerima permintaan. Perubahan seperti ini perlu direncanakan secara bertahap agar kedua versi tetap dapat berjalan selama masa transisi.
3. Gunakan health check dan monitoring
Health check membantu sistem mengenali instance yang siap menerima trafik, sedangkan monitoring membantu tim mengevaluasi kondisi aplikasi selama pembaruan.
Pantau indikator seperti tingkat error, waktu respons, penggunaan CPU dan RAM, serta keberhasilan permintaan. Jika indikator menunjukkan masalah, tim dapat menghentikan rollout dan melakukan pemeriksaan sebelum dampaknya meluas.
4. Siapkan prosedur rollback
Tim perlu menentukan langkah pemulihan jika versi baru gagal berjalan sesuai harapan. Prosedur ini sebaiknya mencakup cara menghentikan rollout, mengembalikan versi aplikasi, dan menangani perubahan database jika diperlukan. Jangan hanya mengandalkan keberhasilan deployment. Pengujian rollback juga penting agar tim mengetahui apakah aplikasi benar-benar dapat kembali ke kondisi yang stabil.
Baca juga: Apa Itu Blue-Green Deployment? Strategi Tanpa Downtime
Penutup
Rolling deployment membantu tim memperbarui aplikasi secara bertahap dengan sejumlah kelebihan, seperti mengurangi risiko downtime, menggunakan resource secara efisien, memudahkan pemantauan versi baru, dan membatasi dampak kegagalan deployment. Strategi ini juga mendukung pembaruan berkelanjutan serta pemulihan ketika versi baru bermasalah.
Untuk aplikasi berbasis container yang membutuhkan pengelolaan deployment dan scaling, Managed Kubernetes IDCloudHost dapat menjadi pilihan yang relevan. Dukungan orkestrasi container dan pengelolaan rollout dapat membantu tim mengatur proses pembaruan aplikasi sesuai kebutuhan. Namun, hasilnya tetap bergantung pada konfigurasi deployment, kapasitas infrastruktur, dan kesiapan aplikasi.