Storytelling dan Visualisasi : Kombinasi Kuat dalam Customer Journey Mapping

Event / 0 | | 0

RASI kembali menghadirkan UX Wannabe, sebuah workshop dan meetup bagi para UI/UX designer dan enthusiast pada 13 Oktober 2018. Topik yang dipilih adalah Journey Mapping. Pada pembuatan sebuah platform atau bahkan website sekalipun, UX (user experience) diperlukan untuk mengetahui tingkat kepuasan pengguna. UX pun memiliki berbagai tahap, salah satunya adalah customer journey mapping. Customer Journey Map adalah visualisasi proses yang dilalui user dalam mencapai goalnya. Customer Journey Map digunakan untuk memahami dan menentukan kebutuhan dan pain points user.

Storytelling dan visualisasi adalah hal yang esensial dalam journey mapping karena metode ini merupakan mekanisme efektif untuk menyampaikan informasi yang lebih memorable, ringkas dan menyatukan visi bersama. Pertanyaan, yang sering orang-orang tanyakan adalah, “Apakah journey mapping penting bagi perencanaan UX Desain?”

 

Angelin S. Tikupasang, sebagai pemberi materi UX Wannabe yang ke-6 ini, menjelaskan bagaimana sebuah journey mapping sangat penting sebelum semua tahapan pengerjaan UX dilakukan, yaitu untuk meningkatkan experience pengguna dan customer dalam mengkonsumsi produk kita.

Dalam anatomi dan struktur pembuatan journey maps, terdapat tahapan-tahapan yang terbagi menjadi tiga zona, yaitu zona, A, B dan C; The Lens, The Experience dan The Insights.

Pada zona A, The Lens–terdapat aktor dan skenario. Zona B, The Experience–ada journey phase, action, mindset dan emotion. Pada zona C, The Insight ada opportunity.

Pendekatan kepada user pun tak luput dikerjakan. Salahsatunya, digital analytics; menghitung/memantau pain points mengenai frekuensi dan pengaruh yang baik bagi permasalahan pada costumer.

Seperti biasa, pada pelaksanaan kelas UX Wannabe tidak hanya sekedar menjelaskan materinya saja. Tapi juga memberikan sebuah workshop guna menunjang pekerjaan/proyek dari masing-masing peserta. Kali ini Angelin memberikan workshop dengan langkah-langkah sebagai berikut, hipotesis mapping, validation dan evaluation.

 

Pada tiap langkah ini pun, tiap peserta dikelompokan dan diminta untuk merancang sebuah journey mapping dari brand-brand yang sebelumnya sudah disepakati. Tiap kelompok harus memikirkan dan menuangkan sebuah skenario terlebih dahulu. Kemudian masuk ke penentuan phase, customer goals, customer actions, channels, thoughts, emotional journey dan opportunity.

Poin-poin tersebut akan dicantumkan melalui sebuah post it yang ditempelkan pada kertas besar, untuk nantinya bisa dipresentasikan dan mudah untuk dibaca orang lain. Dengan begitu tiap peserta dari masing-masing kelompok akan melakukan brainstorm bersama untuk sebuah ide yang baru.

 

Dengan terbentuknya journey mapping yang baik, sebuah projek/perusahaan akan lebih mudah mengerjakan pekerjaan yang sudah direncanakan sebelumnya. Juga memudahkan pengguna dalam memproses informasi yang kita cantumkan dalam apps atau website kita.

Permasalahan UX tidak hanya sampai di sini saja, masih banyak yang harus diulik dan dipelajari, seiring dengan perkembangan teknologi. Maka dari itu, RASI akan terus menghadirkan UX Wannabe selanjutnya agar para UX designer dan enthusiast dapat terus mengikuti berbagai perkembangan tersebut dan mengasah skill mereka dalam UI/UX design.

So, ikuti terus informasi mengenai UX Wannabe selanjutnya di social media @rasi.co. Let’s make things happen!

Related Post :