Volumetric Attack merupakan salah satu jenis serangan DDoS yang paling berbahaya karena menargetkan kapasitas jaringan dengan membanjiri sistem menggunakan trafik berukuran sangat besar. Serangan ini sering menyasar sektor perbankan dan finansial yang sangat bergantung pada ketersediaan layanan digital tanpa gangguan.
Ketika Volumetric Attack terjadi, jaringan dapat mengalami overload, menyebabkan layanan perbankan online, mobile banking, hingga sistem pembayaran digital menjadi tidak dapat diakses. Dampaknya tidak hanya berupa downtime, tetapi juga penurunan kepercayaan nasabah dan potensi kerugian finansial yang signifikan.
Oleh karena itu, memahami apa itu Volumetric Attack, bagaimana cara kerjanya, serta dampaknya bagi sektor perbankan dan finansial menjadi hal yang sangat penting. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif ancaman Volumetric Attack dan alasan mengapa industri keuangan perlu menerapkan strategi mitigasi yang tepat dan berlapis.
Daftar Isi
Apa Itu Volumetric Attack?
Volumetric Attack merupakan jenis serangan siber yang menargetkan kapasitas lebar pita atau bandwidth jaringan. Pelaku kejahatan berusaha membanjiri infrastruktur target dengan lalu lintas data dalam jumlah luar biasa besar. Tujuan utama serangan ini adalah menghabiskan seluruh sumber daya bandwidth yang tersedia pada server. Akibatnya, nasabah sah tidak dapat mengakses layanan aplikasi atau situs web perbankan tersebut.
Perangkat jaringan akan mengalami kewalahan luar biasa saat memproses jutaan paket data sampah. Penyerang biasanya menggunakan satuan bits per second (bps) untuk mengukur kekuatan serangan masif ini.
Beberapa insiden besar bahkan telah mencapai skala Terabits per second (Tbps) pada tahun 2025. Logika serangan ini cukup sederhana namun memberikan dampak kerusakan yang sangat fatal bagi operasional.
Volumetric Attack secara efektif menciptakan kemacetan total pada jalur komunikasi data utama milik bank. Sistem pertahanan tradisional seringkali gagal menghadapi lonjakan trafik yang terjadi secara tiba-tiba ini. Anda harus menyadari bahwa serangan ini menyerang lapisan jaringan dan transportasi pada model OSI.
Keberhasilan serangan ini ditentukan oleh volume trafik yang berhasil menyumbat seluruh pipa data. Penjahat siber tidak perlu mencuri data untuk memberikan kerugian besar bagi institusi Anda.
Baca Juga: Jenis-Jenis Serangan DDoS Paling Umum dan Cara Kerjanya – IDCloudHost
Bagaimana Cara Kerja Volumetric Attack?
Penjahat siber memanfaatkan jaringan botnet yang terdiri dari ribuan perangkat terinfeksi untuk meluncurkan serangan. Setiap perangkat dalam botnet mengirimkan trafik sampah ke satu target yang sama secara sinkron. Pelaku sering menggunakan teknik amplifikasi untuk melipatgandakan volume trafik yang dikirimkan ke server bank. Metode ini mengeksploitasi protokol internet seperti DNS, NTP, dan ICMP untuk menghasilkan data raksasa.
Sebagai contoh, penyerang mengirimkan permintaan kecil ke server DNS publik menggunakan alamat IP palsu korban. Server DNS tersebut kemudian merespon dengan paket data yang jauh lebih besar ke arah bank. Rasio pelipatgandaan ini dapat mencapai puluhan hingga ratusan kali lipat dari ukuran data awal.
Teknik UDP Flood juga sangat populer karena sifat protokolnya yang tidak memerlukan koneksi tetap. Server target dipaksa memeriksa setiap paket yang masuk meskipun port tujuan sebenarnya tertutup. Proses pemeriksaan ini menghabiskan siklus CPU server perbankan yang sangat berharga secara teknis.
Pada sistem Linux, banjir paket ini memicu lonjakan SoftIRQ yang melumpuhkan network stack kernel. Mekanisme interupsi prosesor akan terhenti karena beban kerja yang melampaui batas normal perangkat.
Hal inilah yang menyebabkan aplikasi mobile banking Anda menjadi tidak responsif atau mati total. Pemahaman mendalam tentang mekanisme Layer 3 dan Layer 4 sangat krusial bagi tim pengembang.

Dampak Volumetric Attack bagi Sektor Perbankan dan Finansial
Serangan bandwidth memberikan konsekuensi yang berat bagi ekosistem finansial digital Indonesia saat ini. Berikut ini beberapa rincian dampak dari volumetric attack bagi sektor perbankan dan finansial:
Kerugian Finansial Akibat Downtime Layanan
Setiap detik layanan perbankan yang lumpuh mengakibatkan kerugian materi yang sangat fantastis bagi perusahaan. Riset menunjukkan bahwa biaya downtime bagi bank besar bisa mencapai US$1 juta per jam.
Angka ini mencakup hilangnya potensi transaksi dan biaya pemulihan sistem yang sangat mahal. Nasabah tidak dapat melakukan transfer, pembayaran, atau perdagangan saham yang bersifat sangat mendesak.
Akumulasi kerugian ini dapat mengganggu laporan keuangan tahunan institusi finansial Anda secara signifikan. Investasi pada sistem proteksi jauh lebih ekonomis daripada menanggung beban kerugian operasional tersebut.
Kerusakan Reputasi dan Kehilangan Kepercayaan Nasabah
Kepercayaan merupakan pondasi utama dalam industri jasa keuangan yang harus Anda jaga setiap saat. Volumetric Attack yang menyebabkan aplikasi bank mati akan memicu kepanikan massal di media sosial.
Nasabah akan merasa khawatir terhadap keamanan dana mereka yang tersimpan di dalam bank tersebut. Sentimen negatif ini dapat menurunkan loyalitas pelanggan dan memicu perpindahan nasabah ke bank kompetitor.
Pemulihan citra publik pasca serangan membutuhkan waktu yang lama dan biaya pemasaran besar. Anda tidak boleh meremehkan dampak psikologis dari kegagalan akses layanan digital bagi masyarakat.
Sanksi Administratif dari Regulator OJK dan Bank Indonesia
Institusi keuangan wajib mematuhi regulasi ketat mengenai ketahanan siber sesuai Surat Edaran OJK. Setiap insiden serangan siber yang mengganggu layanan publik harus dilaporkan dalam waktu 24 jam.
Gagal menjaga ketersediaan sistem dapat berujung pada sanksi administratif hingga pencabutan izin operasional. Bank Indonesia juga mewajibkan standar minimum keamanan sistem informasi bagi penyelenggara jasa pembayaran.
Kepatuhan terhadap aturan ini merupakan bentuk tanggung jawab bank dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Anda harus memastikan infrastruktur teknologi Anda memenuhi seluruh parameter yang ditetapkan oleh pemerintah.
Gangguan Sistemik pada Jaringan Pembayaran Nasional
Serangan pada satu bank besar dapat berdampak luas pada jaringan ATM dan QRIS nasional. Interkoneksi antarbank yang sangat erat membuat gangguan lokal bisa menjadi masalah sistemik yang serius. Proses switching antar lembaga keuangan akan terhambat jika salah satu pintu gerbang data tertutup.
Masyarakat luas akan kesulitan melakukan transaksi ekonomi sehari-hari di pasar ritel dan merchant online. Hal ini tentu saja dapat menghambat perputaran uang di sektor riil ekonomi Indonesia. Ketahanan siber perbankan adalah pilar penting bagi kedaulatan ekonomi digital bangsa kita.
Baca Juga: Tips Memilih Layanan Anti-DDoS Terbaik Website Bisnis Anda – IDCloudHost
Cara Mengatasi Volumetric Attack
Institusi keuangan harus mengadopsi strategi pertahanan berlapis untuk menangkal serangan bandwidth secara efektif. Berikut adalah langkah-langkah mitigasi strategis yang berguna untuk mengatasi volumetric attack:
1. Implementasi Layanan Scrubbing Center
Scrubbing Center berfungsi sebagai fasilitas pembersihan trafik raksasa yang berada di luar jaringan bank. Seluruh data menuju server bank akan dialihkan ke pusat pembersihan ini untuk dianalisis.
Sistem akan menyaring paket berbahaya dan hanya meneruskan trafik nasabah yang sah ke tujuan. Penggunaan scrubbing center memastikan bandwidth bank tidak akan penuh akibat serangan data sampah.
2. Optimalisasi Protokol BGP Flowspec
Teknologi BGP Flowspec memungkinkan penyebaran aturan firewall secara dinamis ke seluruh router tepi jaringan. Administrator dapat memblokir trafik berdasarkan parameter granular seperti alamat IP asal dan panjang paket.
Metode ini jauh lebih efisien daripada metode blackholing yang mematikan seluruh akses layanan target. Flowspec bekerja langsung pada perangkat keras router untuk melakukan penyaringan trafik skala besar secara real-time.
Sistem mitigasi ini sangat efektif dalam meredam serangan amplifikasi DNS dan NTP secara otomatis. Kecepatan respon terhadap perubahan pola serangan menjadi keunggulan utama dari penggunaan teknologi Flowspec.
3. Penggunaan Jaringan Anycast
Global Arsitektur Anycast membantu mendistribusikan beban trafik serangan ke banyak titik pusat data berbeda. Saat Volumetric Attack terjadi, beban trafik akan terbagi secara otomatis ke POP terdekat. Hal ini mencegah terjadinya saturasi bandwidth pada satu lokasi server tunggal milik institusi perbankan.
Anycast juga meningkatkan kecepatan akses bagi nasabah karena trafik dilayani dari server yang paling dekat. Cloudflare menggunakan teknologi ini untuk menyerap serangan DDoS skala Terabit tanpa mengganggu kinerja aplikasi. Bank digital modern wajib menggunakan Anycast sebagai lapisan pertahanan pertama terhadap botnet global.
4. Deteksi Anomali Berbasis Kecerdasan Buatan
Kecerdasan Buatan mampu mempelajari pola trafik normal aplikasi perbankan untuk mendeteksi adanya penyimpangan. Sistem deteksi anomali modern memberikan peringatan dini dalam hitungan milidetik saat serangan dimulai.
AI dapat menyesuaikan aturan firewall secara mandiri untuk menghadapi serangan yang terus berubah bentuk. Teknologi Machine Learning membedakan perilaku bot jahat dari manusia asli dengan tingkat akurasi tinggi.
BSSN mendorong penggunaan AI untuk memperkuat pertahanan siber pada infrastruktur kritis milik negara. Deteksi yang cepat meminimalkan dampak gangguan sebelum nasabah menyadari adanya masalah pada sistem.
5. Audit Keamanan dan Simulasi Red Teaming
Melakukan simulasi serangan secara rutin membantu bank menemukan titik lemah pada infrastruktur teknologi mereka. OJK mewajibkan pengujian keamanan siber skenario serangan nyata sebagai bagian dari kepatuhan regulasi.
Tim Red Teaming akan mensimulasikan Volumetric Attack untuk menguji respon tim teknis dan perangkat. Hasil audit digunakan untuk memperbaiki rencana penanggulangan insiden dan prosedur pemulihan data perusahaan.
Simulasi terkendali memastikan bahwa sistem mitigasi benar-benar berfungsi saat terjadi serangan yang sesungguhnya. Kesiapan operasional menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan layanan perbankan selama 24 jam.
Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Anti-DDoS Adalah Investasi Keamanan Digital – IDCloudHost
Penutup
Volumetric Attack merupakan ancaman serius bagi sektor perbankan dan finansial karena mampu melumpuhkan jaringan melalui lonjakan trafik berskala besar dalam waktu singkat. Serangan ini tidak hanya mengganggu operasional layanan digital, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan nasabah serta memicu kerugian finansial yang signifikan.
Oleh karena itu, institusi keuangan perlu menerapkan strategi perlindungan berlapis yang mampu mendeteksi dan memitigasi serangan sejak dini. Untuk menerapkan strategi perlindungan yang efektif, tentu saja Anda membutuhkan infrastruktur yang tangguh. Maka dari itu, Anda dapat menggunakan layanan Cloud VPS eXtreme dari IDCloudHost. Layanan ini menawarkan infrastruktur server yang aman, cepat, dan efisien, serta dilengkapi dengan perlindungan Anti-DDoS yang telah teruji dalam menghadapi berbagai jenis serangan siber.