Apa Itu UX Case Study? Pengertian dan Susunannya

Web & Development / 0 | | 0

Anda mungkin pernah mengalami kesulitan dalam membuat portofolio UX. Kesulitan tersebut bisa saja karena portofolio Anda kurang mendalam, atau Anda bingung harus mulai menyusun UX Case Study dari mana terlebih dahulu. Anda yang merupakan pemula di bidang ini bisa saja bingung apa yang harus diperbaiki dari portofolio tersebut. 

Atau mungkin Anda pernah diundang untuk interview kerja di bidang UX, namun tidak berjalan dengan baik karena Anda tersandung dalam mempresentasikan dan menjawab pertanyaan tentang proyek Anda. Ini semua adalah gejala dari satu masalah: studi kasus UX Anda tidak ditulis dengan cukup baik.

Padahal, studi kasus adalah hal yang sangat krusial dalam dunia desain. Ketika Anda tidak dapat mengartikulasikan keputusan desain Anda, hal tersebut tentunya akan membuat Anda kesulitan dalam pekerjaan. Apa itu UX Case Study dan bagaimana cara membuatnya? Simak penjelasannya berikut ini. 

Baca Juga: Apa Itu UX Writer? Tugas dan Skill yang Wajib Dimilikinya

Apa Itu UX Case Study?

ux case study

Sederhananya, UX case study adalah tulisan yang menjelaskan proyek desain yang telah Anda kerjakan. Tujuannya tentu saja untuk menunjukkan keterampilan Anda pada proyek tersebut dan membantu calon pemberi kerja untuk mengetahui bagaimana Anda akan menggunakan keterampilan tersebut jika Anda bekerja untuk mereka.

Studi kasus biasanya ditulis seperti artikel yang sangat visual, dengan teks yang memandu pembaca melalui serangkaian gambar yang sesuai. Teks dan gambar yang digunakan dalam UX case study harus benar-benar Anda pikirkan, karena studi kasus ini adalah senjata utama para pegiat UX. 

Dalam dunia UX, studi kasus lebih banyak menggambarkan tentang pekerjaan Anda daripada resume dan surat lamaran. Manfaat lainnya adalah bahwa case study ini sangat berguna dalam wawancara kerja. Jika ada pertanyaan tentang proyek yang Anda kerjakan, Anda bisa menjelaskan apa yang ada dalam studi kasus Anda. 

UX case study adalah sebuah cerita. Karena itulah, dalam menuliskannya Anda harus bisa mengisahkan tentang proyek Anda secara lengkap dan mudah dipahami. Selain tentang masalah dan solusi yang Anda tawarkan, Anda juga bisa bercerita tentang proses desain Anda dan metode apa yang Anda gunakan dalam mengerjakan proyek tersebut. 

Susunan UX Case Study

susunan ux case study

Untuk dapat membuat UX case study yang baik, Anda tentu harus memahami susunannya terlebih dahulu. Berikut adalah anatomi dari studi kasus yang baik untuk Anda yang ingin bekerja di dunia UX. 

  1. Ringkasan dan Latar Belakang

Seperti cerita lain pada umumnya, pendahuluan adalah bagian yang penting untuk membuat orang tertarik membaca studi kasus Anda. Pada bagian ini, Anda bisa memberikan konteks yang dibutuhkan pembaca untuk memahmai proyek Anda. Ceritakanlah proyek tersebut secara ringkas dan apa yang membuat Anda tertarik untuk mengerjakannya. 

  1. Permasalahan

Pada bagian ini, Anda dapat menjelaskan apa saja yang membuat proyek ini menjadi penting. Masalah apa yang ingin Anda pecahkan? Apa hasil dan tujuan yang Anda inginkan? Dalami masalah itu dalam penjelasan Anda.

Walaupun Anda telah menyinggungnya di pendahuluan, Anda bisa membuat permasalahan tersebut lebih kuat di bagian ini. Sampaikanlah analisis atau data-data yang sudah Anda kumpulkan.Berikan hasil riset pasar atau survei yang dapat mendukung masalah Anda. Dalam menjelaskan masalah, bingkailah karya desain Anda sebagai solusi dari masalah tersebut. 

  1. User & Audience

Setelah menjelaskan masalahnya, tunjukkan bagaimana hal itu berdampak pada pengguna Anda dan interaksi mereka dengan produk Anda. Jika Anda melakukan riset sebelumnya atau Anda mencari pekerjaan yang berorientasi pada UX research, berbagi skrip wawancara, metriks, dan hasil riset lainnya dalam studi kasus akan sangat berguna dalam menunjukkan proses Anda.

Namun, bagian ini seharusnya tidak hanya tentang proses Anda. Tujuan utama dari bagian ini adalah menyampaikan siapa pengguna Anda dan apa kebutuhan mereka. Temuan-temuan ini harus mengatur pekerjaan desain Anda setelahnya. Untuk mengkomunikasikan pengguna dan tantangan yang mereka hadapi, Anda juga bisa membuat user persona yang detail. 

Baca Juga: Apa itu User Experience (UX) : Pengertian, Fungsi, dan Cara Kerjanya

  1. Peran dan Tanggungjawab

Dalam pengerjaan sebuah proyek, biasanya melibatkan beberapa orang sebagai tim. Hal inilah yang harus Anda jelaskan pada bagian peran dan tanggungjawab. Jelaskan siapa saja yang terlibat dalam tim tersebut? Apa peran Anda? Apa yang Anda menjadi tugas Anda? Jelaskan kontribusi dan pencapaian Anda dalam proyek tersebut dengan detail sehingga pembaca akan lebih tertarik dengan kemampuan Anda. 

  1. Cakupan Kerja

Apakah ada batasan tertentu saat Anda mengerjakan proyek? Misalnya, Anda bisa menjelaskan timeline kerja Anda dan berapa budget yang Anda rancang untuk proyek tersebut. Jika Anda membuat UX case study untuk melamar pekerjaan, tim rekruter akan lebih tertarik dengan proses seperti ini. 

  1. Proses Pengerjaan

Inti yang memuat keseluruhan proses desain Anda adalah bagian ini. Seperti yang sudah Anda ketahui sebelumnya, tim rekruter tidak hanya menginginkan produk akhir saja, tapi juga melihat bagaimana proses Anda ketika mendesain produk. 

Alasannya, karena proses tersebut menunjukkan kemampuan Anda dan seberapa jauh pemahaman Anda tentang konsep UX. Pada bagian ini, Anda bisa menuliskan dengan detail apa saja yang Anda lakukan selama pengerjaan dan kenapa Anda melakukannya. 

  1. Hasil 

Bagian ini harus menyertakan pekerjaan paling akhir yang Anda lakukan pada proyek (misalnya, alur wireframe atau maket warna) dan produk akhir apa pun yang dihasilkan jika ada. Namun, jelaskan dengan jelas, tentang pekerjaan mana yang milik Anda dan mana yang bukan.

Jelaskan setiap keputusan atau kendala utama yang mengubah desain dari tahap sebelumnya. Misalnya, Anda dapat menjelaskan temuan dan revisi dari tahap pengujian. Anda juga bisa menjelaskan hal-hal apa saja yang mempengaruhi keputusan yang Anda buat dalam menciptakan produk akhir. 

Jika Anda dapat menunjukkan dampak dari pekerjaan Anda, maka akan lebih baik dan mampu membuat UX case study yang Anda buat tampak luar biasa. Jika proyek Anda telah disebarkan dan tersedia bagi pengguna, lihatlah analitik, kepuasan pengguna, rating, atau metrik lainnya.

Lihat apa yang bisa Anda soroti dalam studi kasus Anda untuk menunjukkan bagaimana desain Anda meningkatkan pengalaman pengguna atau mencapai tujuan bisnis. Idealnya, Anda dapat merujuk kembali ke pernyataan masalah awal dan sasaran bisnis Anda dari pendahuluan.

Baca Juga: 10 Skill yang Wajib Dikuasai Untuk Menjadi UX Designer

Penutup

Demikianlah pengertian dan anatomi UX case study yang Anda ketahui. Dengan mengetahui susunannya, Anda jadi lebih mudah dalam menyusun studi kasus Anda sendiri. Yang terpenting adalah Anda harus memahami proyek dan keseluruhan prosesnya sebelum menuangkannya dalam tulisan. Anda juga bisa melihat contoh studi kasus orang lain untuk mengikuti teknik penulisannya. 

Untuk memposting UX case study tersebut, Anda bisa melakukannya di banyak platform, salah satunya website pribadi. Salah satu layanan yang handal dan cocok untuk Anda yang ingin membuat studi kasus dan portofolio adalah WordPress Hosting IDCloudHost. Membuat website dengan mudah dan cepat, mulai dari Rp 5.000,-/bulan! 

Related Post :