Mengenal V-Model Metodologi Pengembangan Perangkat Lunak

Web & Development

V-Model menjadi salah satu turunan dari model SDLC Waterfall. Dalam bahasa Inggris, komponen ini terkenal sebagai V-shaped. Semua tahapan di dalam model ini linear dan sekuensial serta bisa menjadi perpanjangan dari model waterfall. Mengenal V-Model, selain diambil dari bentuknya yang mirip huruf V, model ini juga ternyata kependekan dari Verification and Validation Model. Lantas, tahapan seperti apa yang ada di dalam model komponen ini?

Apa Itu V-Model dan Siklus Pengujiannya

Secara singkat, V-Model adalah salah satu model SDLC yang proses eksekusi setiap fasenya dilakukan secara berurutan membentuk pola huruf V. Model ini merupakan pengembangan dari metode waterfall dan dirancang berdasarkan keterkaitan antara tahap pengujian dan fase pengembangan.

Artinya, setiap fase dalam siklusnya memiliki tahap pengujian yang langsung berhubungan. Sama seperti waterfall, V-Model menuntut tingkat kedisiplinan tinggi karena suatu fase tidak dapat dimulai sebelum fase sebelumnya selesai.

Dalam V-Model, tahapan pengujian dapat dilakukan secara paralel dengan proses pengembangan. Struktur model ini membagi tahapan menjadi dua sisi, yaitu fase verifikasi di satu sisi dan fase validasi di sisi lainnya. Di bagian bawah huruf V terdapat fase koding atau implementasi yang menjadi penghubung antara kedua sisi tersebut.

Istilah Utama Rekayasa Perangkat Lunak

Sebelum lanjut membahas V-Model, berikut ada beberapa istilah dalam rekayasa perangkat lunak (software).

SDLC

SDLC merupakan Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak. Komponen ini menjadi rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh Pengembang guna merancang serta mengembangkan perangkat lunak berkualitas.

STLC

STLC atau Software Testing Life Cycle adalah siklus hidup pengujian perangkat lunak yang terdiri dari serangkaian aktivitas terstruktur dan metodologis yang dilakukan oleh penguji. Tujuan utamanya adalah memastikan kualitas dan fungsi produk perangkat lunak sesuai kebutuhan serta dapat digunakan dengan baik oleh pengguna.

Model Waterfall

Model Waterfall adalah model pengembangan perangkat lunak yang bersifat berurutan dan terbagi ke dalam beberapa fase. Setiap fase dirancang untuk menjalankan aktivitas tertentu, mulai dari analisis hingga pemeliharaan. Pada model ini, tahap pengujian baru dapat dimulai setelah proses implementasi sistem selesai dilakukan, sehingga alur kerjanya berjalan satu arah tanpa tumpang tindih antar fase.

Proses Verifikasi pada V-Model 

Dalam proses mengenal V-Model tahap ini, ada beberapa fase yang bisa diperhatikan sebagai berikut:

Requirement Analysis

Sama seperti Model Firewall, ini merupakan fase pertama di dalam siklus dimana semua informasi kebutuhan pengembangan digali oleh customer. Dalam fase ini, tentu saja melibatkan proses komunikasi intensif dengan customer. Tujuannya adalah untuk memahami kebutuhan sistem secara tepat.

Selain itu, fase ini juga berperan penting dan harus penggunanya kelola baik. Mengapa? Karena sebagian besar customer tidak begitu yakin mengenai apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Perencanaan Acceptance Test Design ini juga dilakukan pada tahap karena requirement bisa berguna sebagai input untuk pengujian acceptance.

System Design

Setelah kebutuhan produk ditentukan secara jelas dan terperinci, langkah berikutnya adalah merancang sistem secara menyeluruh. Desain sistem ini mencakup rincian perangkat keras yang dibutuhkan serta pengaturan komunikasi yang akan digunakan pada sistem yang sedang dikembangkan. Dari desain sistem tersebut, disusun pula rencana pengujian sistem (system test plan) yang akan menjadi acuan dalam memastikan seluruh komponen berfungsi sesuai tujuan.

Architectural Design

Pada fase ini, spesifikasi arsitektur sistem mulai dipahami secara menyeluruh. Biasanya terdapat beberapa alternatif pendekatan teknis yang diajukan, lalu dipilih satu solusi terbaik berdasarkan pertimbangan kelayakan teknis dan finansial. Desain sistem kemudian diuraikan menjadi komponen atau modul yang lebih kecil, masing-masing dengan fungsi yang berbeda.

Selain itu, alur transfer data dan mekanisme komunikasi antar modul, baik secara internal maupun dengan sistem eksternal, juga sudah ditentukan dengan jelas sehingga dapat diidentifikasi oleh pengguna. Berdasarkan informasi ini, rencana integration test dapat disusun dan didokumentasikan selama tahap ini berlangsung.

Module Design

Pada fase ini, desain internal yang terperinci untuk setiap modul dalam sistem ditetapkan dengan jelas. Desain tersebut harus kompatibel dengan modul lain dalam arsitektur sistem maupun dengan sistem eksternal yang berhubungan.

Unit test menjadi elemen penting dalam proses pengembangan, karena berfungsi untuk mendeteksi dan menghilangkan kesalahan sejak tahap awal yang sering kali sulit ditemukan di tahap selanjutnya. Perancangan unit test dilakukan berdasarkan desain internal masing-masing modul sehingga pengujian dapat berjalan efektif dan sesuai tujuan.

Baca juga: Kenali Burp Suite Tools untuk Uji Keamanan Aplikasi Web

Proses Coding & Validasi pada V-Model

v model adalah

Dalam mengenal V-Model, proses pengkodean atau coding dilakukan setelah seluruh rancangan sistem pada tahap desain telah selesai. Bahasa pemrograman yang digunakan dipilih sesuai dengan kebutuhan sistem dan arsitektur yang telah ditentukan.

Proses penulisan kode mengikuti pedoman serta standar coding yang berlaku, sehingga setiap baris kode melewati proses code review secara menyeluruh. Selain itu, kode dioptimalkan untuk menghasilkan kinerja terbaik sebelum dilakukan final build.

Sama seperti proses verifikasi, proses validasi juga terdiri dari beberapa tahap.

Unit Testing

Tahap pertama adalah unit testing, yaitu pengujian yang dirancang pada fase module design dan dijalankan terhadap kode yang telah ditulis selama fase validasi. Unit testing berfokus pada pengujian di tingkat kode untuk memastikan setiap modul berfungsi sesuai rancangan. Pengujian ini membantu menemukan dan menghilangkan bug sejak tahap awal, meskipun tidak semua bug dapat terungkap hanya melalui unit testing.

Integration Testing

Tahap berikutnya berkaitan dengan fase architectural design, yaitu integration testing. Pengujian ini bertujuan untuk memastikan setiap modul dalam sistem dapat berkoeksistensi dan berkomunikasi dengan baik satu sama lain. Proses ini memverifikasi bahwa hubungan antar modul, baik dari segi alur data maupun fungsi, berjalan sesuai yang diharapkan.

System Testing

System testing secara langsung berkaitan dengan fase system design. Pengujian ini berfokus pada pemeriksaan seluruh fungsionalitas sistem, termasuk kemampuan sistem untuk berkomunikasi dengan sistem eksternal.  Selama pelaksanaan system testing, berbagai masalah kompatibilitas antara perangkat lunak dan perangkat keras umumnya dapat terungkap. Sehingga tahap ini menjadi krusial dalam memastikan sistem berjalan sesuai rancangan.

Acceptance Testing

Dalam mengenal V-Model, acceptance testing berkaitan erat dengan fase requirement analysis dan dilakukan di lingkungan pengguna. Tujuan utamanya adalah memverifikasi bahwa produk memenuhi kebutuhan yang telah ditetapkan serta dapat berjalan dengan baik di lingkungan operasional sebenarnya.

Pada tahap ini, pengujian juga dapat mengungkap masalah kompatibilitas dengan sistem lain yang sudah ada, serta mengidentifikasi kendala nonfungsional seperti beban (load) dan kinerja (performance) sistem di lingkungan pengguna.

Baca juga: Memahami Network Speed Tools untuk Cek Kecepatan Internet

Aplikasi V-Model

V-Model memiliki kemiripan dengan model waterfall karena keduanya sama-sama bersifat sekuensial, di mana satu fase harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke fase berikutnya. Kebutuhan atau requirement harus benar-benar jelas sebelum proyek dimulai. Alasannya, perubahan requirement di tengah proses pengembangan dapat mengakibatkan pembengkakan biaya yang signifikan. Model ini sering digunakan dalam pengembangan sistem medis karena mampu menerapkan tingkat kedisiplinan yang tinggi.

Beberapa skenario yang paling cocok untuk menerapkan V-Model antara lain: kebutuhan sistem sudah jelas dan terdokumentasi dengan baik, definisi produk bersifat stabil tanpa banyak perubahan, teknologi yang digunakan relatif tetap dan mudah dipahami oleh tim, semua requirement tidak memiliki makna ganda, tidak ada requirement yang belum atau tidak terdefinisikan, serta durasi proyek tergolong singkat.

Baca juga: Mengenal OSINT Framework Teknik dan Tools yang Digunakannya

Kelebihan dan Kekurangan V-Model

Meski kesederhanaan dari model ini mampu membuatnya jadi lebih mudah untuk di-manage, persis seperti Model Waterfall, namun ada kelemahan paling nyata, yakni tidak fleksibel terhadap perubahan requirement dan ini sangat umum terjadi. Dalam mengenal V-Model, berikut ini akan dijelaskan secara rinci mengenai kelebihannya terlebih dahulu.

  1. Model ini menerapkan disiplin tingkat tinggi dan fase-fase dalam model akan melewati proses penyelesaian satu persatu,
  2. Bisa berguna sangat baik untuk proyek kecil, dimana requirement sangat mudah dipahami,
  3. Model ini cukup sederhana, jadi bisa digunakan dengan maksimal,
  4. Mudah untuk memanage karena bersifat kekakuan dari model dan setiap fase di dalam siklusnya punya tujuan spesifik.

Sementara itu, kelemahan dari V-Model pada perangkat adalah sebagai berikut ini.

  1. Punya risiko dan ketidakpastian tinggi ketika diaplikasikan untuk proyek besar,
  2. Menjadi model yang tidak berkualitas untuk proyek komplek dan justru berorientasi pada objek,
  3. Menjadi model yang buruk untuk proyek panjang dan berkelanjutan,
  4. Tidak cocok untuk proyek karena requirement-nya mudah berubah,
  5. Sistem di dalam proses testing sangat sulit untuk mundur ke fase sebelumnya,
  6. Tidak ada sistem yang bisa digunakan sampai satu siklusnya selesai.

Penutup

Jika sudah mengetahui tentang pengertian, fase-fase, hingga kelebihan dan kekurangannya, tentu siapa saja bisa dengan mudah untuk mengenal V-Model secara detail. Pada akhirnya, model pengembangan yang dipilih untuk suatu proyek akan bergantung pada maksud dan tujuan proyek tersebut.

Dengan penerapan V-Model, kualitas perangkat lunak dapat lebih terjamin karena setiap tahap pembangunan sudah dipadukan dengan tahap pengujian. Bagi perusahaan, hal ini menjadi kunci dalam menciptakan aplikasi yang stabil, aman, dan sesuai kebutuhan bisnis.

Anda bisa gunakan layanan Cloud VPS karena mendukung developer dalam menguji dan mengimplementasikan perangkat lunak di lingkungan server yang fleksibel dan scalable.