DNS adalah tulang punggung aktivitas online, ketika server DNS terganggu, seluruh layanan bisa ikut lumpuh.
Serangan DNS Flood menargetkan resolver dan name server dengan banjir query yang membuat layanan tak mampu merespons. Dampaknya bisa berupa downtime website, gangguan email, hingga terganggunya akses aplikasi kritikal bagi bisnis. Dalam artikel ini kita akan mengulas cara kerja serangan DNS Flood, tanda-tandanya, dan langkah mitigasi yang efektif.
Daftar Isi
Apa Itu DNS Flood
DNS Flood merupakan salah satu bentuk serangan DDoS (Distributed Denial of Service) yang khusus menargetkan server DNS sebuah domain. Dalam serangan ini, penyerang akan membanjiri server tersebut dengan permintaan besar secara terus-menerus. Akibatnya, akan membuat server tersebut kewalahan dan gagal memproses permintaan dari pengguna aslinya. Kemudian, layanan yang bergantung pada DNS, seperti situs web tidak dapat diakses sama sekali.
Dalam dunia digital saat ini, server DNS sendiri memegang peranan sangat penting sebagai jembatan antara pengguna dan situs web yang diakses. DNS berfungsi mirip buku telepon internet yang mampu menerjemahkan nama domain. Contohnya seperti example.com menjadi alamat IP yang mudah dipahami komputer.
Tanpa proses ini, pengguna sulit mengakses layanan apapun di internet. Dengan demikian, saat terjadi gangguan pada sistem ini seperti hal di atas, maka akses situs web akan lumpuh total. Inilah alasan mengapa serangan siber ini sangat berbahaya dan harus dipelajari lebih mendalam.
Perbandingan DNS Flooding dan DNS Amplification

Perbandingan antara DNS Flood dan DNS Amplification terletak pada cara serangan yang dilakukan. Flooding memakai metode direct flooding, di mana penyerang mengirimkan permintaan DNS langsung ke server target dalam jumlah besar.
Umumnya, melalui botnet dengan perangkat IoT. Tujuannya adalah membuat server tersebut kewalahan dan gagal merespons permintaan asli dari pengguna. Serangan ini mengandalkan volume dan kecepatan, tanpa menyembunyikan asal serangan.
Sementara itu, DNS Amplification menggunakan server DNS terbuka yang keamanan nya buruk. Penyerang mengirimkan permintaan DNS kecil ke server tersebut. Akan tetapi dengan alamat pengirim palsu (spoofing) menjadi alamat korban.
Saat server DNS ini memberikan tanggapan, maka balasan besar akan terkirim ke korban, bukan penyerang. Teknik ini namanya reflected amplification karena permintaan kecil bisa menghasilkan respons lebih besar. Kelebihan amplifikasi adalah tingkat efisiensinya. Penyerang dapat menyerang target besar dengan sumber terbatas.
Namun demikian, mengingat ia bergantung pada DNS server yang rentan, maka tingkat efektivitasnya terbatas apabila sistem DNS global semakin ketat. Di sisi lain, DNS Flooding tidak membutuhkan kelemahan server pihak ketiga, namun butuh kapasitas bandwidth yang cukup besar.
Baca juga: Multiple VERB Single Request, Serangan Tanpa Terdeteksi
Alasan DNS Flooding Berbahaya
Bahaya DNS Flood tidak boleh serta merta disepelekan. Pasalnya, DNS adalah fondasi utama yang memungkinkan pengguna untuk mengakses layanan digital. Misalnya seperti situs web, aplikasi, dan juga API. Saat server DNS bermasalah dan gagal merespons permintaan dengan baik, maka layanan akan tidak tersedia.
Dampaknya akan langsung downtime yang mampu mengganggu jalannya operasional. Selain itu, juga merusak pengalaman pengguna, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pelayanan perusahaan. Di sektor bisnis, dampaknya dapat berujung pada hilangnya pendapatan dan reputasi perusahaan, jika terjadi berulang kali.
Tingkat resiko DNS Flooding pun juga semakin tinggi karena semakin meluasnya penggunaan perangkat IoT berbandwidth tinggi. Misalnya seperti kamera IP dan perangkat smart home. Perangkat tersebut kerap kali mempunyai keamanan lemah, sehingga menjadi target utama untuk pembajakan dan bagian dari botnet penyerang.
Akibatnya, serangan dapat dilakukan dalam skala yang cukup besar dengan biaya rendah. Inilah yang membuat DNS Flooding menjadi ancaman serius yang berbahaya dalam dunia keamanan siber modern.
Baca juga: UDP Flood, Serangan Bandwidth Populer yang Wajib Diwaspadai
Cara Kerja Serangan DNS Flood
Sebagaimana ulasan sebelumya, Banjir DNS adalah salah satu bentuk serangan Distributed Denial of Service yang menargetkan infrastruktur sistem penamaan domain. Dalam serangan ini, server DNS dibanjiri oleh sejumlah besar permintaan ke alamat IP yang dilayani sehingga sumber daya server terpakai habis dan server tidak lagi mampu merespons kueri yang sah.
Serangan jenis ini bersifat simetris karena lalu lintas serangan langsung membebani server target, dan dampaknya meluas karena zona DNS yang dihosting pada server tersebut menjadi terpengaruh sehingga nama domain tidak dapat terresolver. Akibatnya layanan yang bergantung pada DNS seperti situs web, email, dan layanan online lain bisa tidak dapat diakses meskipun server aplikasi utama masih sehat.
Cara kerja serangan berbahaya ini cukup canggih dan memanfaatkan rentannya infrastruktur internet modern. Serangan ini menggunakan botnet, yakni jaringan perangkat yang terinfeksi malware dan dikendalikan oleh penyerang. Botnet terdiri dari ribuan hingga jutaan perangkat. Misalnya seperti IP camera, DVR, dan perangkat IoT lainnya yang terkoneksi internet.
Setiap perangkat tersebut mengirimkan permintaan DNS dalam jumlah besar secara bersama-sama ke server DNS target. Dengan demikian, mampu menciptakan lonjakan trafik signifikan dan membuat server gagal menangani semua permintaan tersebut.
Selain itu, alasan mengapa serangan ini sangat berbahaya adalah kemampuannya dalam meniru lalu lintas normal. Permintaan yang dikirimkan oleh perangkat botnet kerap kali tampak sah. Sebagai contoh, dengan meminta data untuk domain yang ada.
Inilah yang nantinya menyebabkan lalu lintas sangat mirip dengan trafik pengguna biasa. Akibatnya akan sulit untuk membedakannya secara langsung. Lebih lanjut, serangan ini menjadi tantangan besar bagi tim keamanan. Pasalnya, botnet tidak hanya membawa volume tinggi saja. Akan tetapi juga meniru kueri nyata yang dapat menyulitkan proses deteksi dan mitigasi serangan sejak dini.
Cara Mitigasi Serangan DNS Flooding
Dalam rangka menghadapi serangan kompleks yang sulit dideteksi, maka organisasi perlu menerapkan strategi mitigasi DNS Flood secara menyeluruh. Alasannya, karena serangan ini tidak hanya memanfaatkan volume trafik tinggi saja. Akan tetapi juga menyamar trafik sah, sehingga penanganannya memerlukan kombinasi teknologi dan pendekatan proaktif. Berikut ini adalah langkah penting sebagai perlindungan DNS dan solusi serangan DDoS.
Sistem DNS Besar dan Terdistribusi
Langkah pertama adalah memastikan bahwa infrastruktur DNS telah mempunyai kapasitas besar dan tersebar secara geografis. Sistem DNS yang terdistribusi dapat menyebarkan beban trafik ke banyak lokasi berbeda. Dengan demikian, sulit dilumpuhkan oleh serangan dalam satu titik saja.
Hal ini tentunya sangat penting dalam rangka menjaga perlindungan DNS secara keseluruhan. Pasalnya, adanya cadangan server di berbagai lokasi, memungkinkan terjadinya gangguan layanan akibat serangan jauh lebih kecil. Langkah ini juga dapat membantu menyerap lonjakan trafik dan tetap melayani permintaan asli yang sah dari pengguna.
Monitoring Real-Time dan Filtering Traffic
Upaya mitigasi yang efektif juga memerlukan sistem monitoring secara real-time. Tujuannya untuk mendeteksi pola-pola trafik mencurigakan sejak dini. Dengan mengamati permintaan DNS secara terus-menerus, maka tim keamanan mampu mendeteksi gejala serangan DDoS.
Adapun contoh gejalanya seperti DNS Flood sebelum mencapai puncaknya. Teknologi filtering berbasis aturan dan machine learning dapat dimanfaatkan untuk menyaring permintaan tidak sah. Tentunya tanpa mengganggu trafik yang valid. Dengan langkah ini, organisasi mampu menjaga kelangsungan operasional layanan sambil menghadang serangan secara simultan.
Update dan Isolasi Perangkat IoT
Banyak serangan DNS Flooding yang datang dari botnet terdiri dari perangkat IoT seperti kamera IP, DVR, dan perangkat lainnya. oleh karena itu, salah satu solusi terbaik dalam perlindungan DNS adalah memastikan semua perangkat IoT terhubung ke jaringan selalu dalam situasi aman.
Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengupdate firmware secara berkala. Pemakaian kata sandi juga harus kuat dan mengisolasi perangkat yang mencurigakan. Tanpa cara pengamanan ini, maka perangkat IoT dapat menjadi “kaki tangan” penyerang dan justru nantinya akan memperbesar skala serangan ke server DNS.
Baca juga: Recursive GET Attack, Penyalahgunaan GET Serangan DDoS
Penutup
Memahami ancaman DNS Flood sangat penting di era digital saat ini. Pasalnya, hampir seluruh layanan digital online bergantung pada sistem DNS untuk tetap berjalan. Serangan ini bisa saja tidak terlihat mencolok, tapi dampaknya mampu mematikan akses ke situs web, aplikasi, hingga layanan lain secara menyeluruh.
Oleh karena itu, setiap organisasi baik perusahaan teknologi, institusi keuangan, dan penyedia konten perlu memperkuat infrastruktur DNSnya. Dengan sistem yang tangguh, maka mampu menghadapi serangan berintensitas tinggi untuk menjaga kelangsungan hidup organisasi. Jangan biarkan serangan DNS Flood melumpuhkan layanan Anda, lindungi infrastruktur dengan solusi Anti-DDoS IDCloudHost dan tetap pastikan layanan online, cepat, dan dapat diandalkan.