Mengenal Apa Itu A/B Testing Serta Fungsi dan Cara Kerjanya

Business, Marketing / 0 | | 0

Biasanya ketika anda membuka website sebuah perusahaan atau blog, anda cenderung melihat ke tampilan design website tersebut apakah menarik dan responsif atau tidak. Nah, ini adalah tugas dari tampilan UI dan UX website tersebut. Anda memerlukan beberapa contoh design sebelum di tampilkan kedalam website anda.

Untuk sebuah desain website anda pasti harus menentukan salah satu design yang terbaik untuk anda gunakan. Selain itu, anda harus mempertimbangkan design website yang paling efektif untuk coversion?

Mengenai masalah ini, anda tidak perlu khawatir karena masalah ini bisa diatasi dengan A/B testing. Keunggulan A/B testing ini bahkan dapat memudahkan anda memilih desain website berdasarkan data. Yuk, simak panudan mengenai A/B testing berikut ini.

Baca Juga : 5 Fakta Web Design Yang Harus Anda Ketahui

 

Apa Itu A/B Testing?

 

A/ B testing merupakan merupakan sebuah metode untuk testing dengan menampilkan 2 varian website yang berbeda dalam satu laman website secara bersamaan. Serta membandingkan kualitas dari masing-masing tampilan melalui conversion rate. Sehingga dapat  meningkatkan conversion rate lebih tinggi. Maka itulah tampilan terbaik untuk suatu halaman website.

Seberapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk membuat website, biasanya pasti akan menginginkan perubahan tampilan atau tata letak halaman. Biasanya kita berpikir tampilan ini jelek (melalui opini).

Dengan A B testing, kita akan berbicara fakta kenapa harus merubah tampilan halaman pada suatu website, bukan opini lagi. Fakta disini bisa kita baca melalui traffic website dan jumlah conversion rate ketika menggunakan tampilan A atau B.

Baca  Juga : Cara Gunakan Google PageSpeed Insight untuk Optimasi Website

 

Cara Kerja A/B Testing (Pengujian A/B)

Setelah mengetahui pengertian dari A/B Testing diatas, maka A/B Testing atau Pengujian A/B akan membuat cara yang sangat sistematis agar dapat mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak berhasil dalam strategi pemasaran anda.

Sebagian besar upaya pemasaran diarahkan untuk mengarahkan lebih banyak lalu lintas, tetapi karena akuisisi lalu lintas menjadi lebih sulit dan mahal, menjadi sangat penting untuk menawarkan pengalaman terbaik kepada pengguna Anda yang datang ke situs web Anda sehingga mereka dapat mencapai tujuan mereka sambil memungkinkan mereka untuk mengkonversi dengan cara tercepat, paling efisien mungkin.

Pengujian A/B dalam Digital Marketing memungkinkan Anda memaksimalkan lalu lintas yang ada.
Program A/B Testing yang terstruktur dapat membuat upaya pemasaran lebih menguntungkan dengan menunjukkan dengan tepat area masalah paling penting yang perlu dioptimalkan.

Pengujian A/B kini beralih dari aktivitas mandiri yang dilakukan sekali dalam bulan biru ke aktivitas yang lebih terstruktur dan berkelanjutan yang harus selalu dilakukan melalui proses CRO yang terdefinisi dengan baik. Secara umum, ini mencakup langkah-langkah berikut:

  1. Research (Penelitian)

    Langkah pertama Sebelum membangun rencana pengujian A/B, anda perlu melakukan sebuah penelitian dan quisioner menyeluruh tentang bagaimana situs web yang digemari saat ini melakukan. Anda harus banyak mengumpulkan data tentang segala hal yang berkaitan dengan berapa banyak pengguna yang datang ke situs, halaman mana yang paling mengarahkan lalu lintas, apa saja berbagai tujuan konversi dari berbagai halaman. Alat yang digunakan di sini dapat mencakup alat analisis situs web kuantitatif seperti Google Analytics, Omniture, Mixpanel dan lain sebagainya yang dapat membantu Anda mengetahui halaman yang paling sering dikunjungi, halaman dengan waktu terbanyak atau halaman dengan Bounce Rate.

  2. Membuat Hipotesis (Dugaan)

    Anda dapat membuat menuliskan terlebih dahulu tujuan bisnis Anda dengan mencatat pengamatan penelitian dan membuat hipotesis dengan data – data yang anda sudah kumpulkan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan konversi. Inilah salah satu kunci kesuksesan dalam strategi marketing website anda. Tanpa adanya Hipotesis ini, pengujian website Anda tidak akan mempunyai tujuan yang jelas dan terperinci. Untuk melakukan Hipotesis penelitian kualitatif dan kuantitatif anda dapat mengumpulkan data perilaku pengunjung.

  3. Pembuatan Variasi

    Langkah selanjutnya dalam program pengujian Anda harus membuat variasi berdasarkan hipotesis Anda, dan A/B mengujinya terhadap versi yang ada (kontrol). Variasi adalah versi lain dari versi Anda yang ada dengan perubahan yang ingin Anda uji. Anda dapat menguji beberapa variasi terhadap kontrol untuk melihat mana yang paling berhasil. Buat variasi berdasarkan pada hipotesis Anda tentang apa yang mungkin berhasil dari perspektif UX. Misalnya, cukup banyak orang yang tidak mengisi formulir? Apakah formulir Anda memiliki terlalu banyak bidang? Apakah itu meminta informasi pribadi? Mungkin Anda dapat mencoba variasi dengan formulir lebih pendek atau variasi lain dengan menghilangkan bidang yang meminta informasi pribadi.

  4.  Pengujian/ Testing

    Sebelum kita sampai ke langkah ini, mari kita jelajahi terlebih dahulu berapa banyak jenis metode pengujian yang ada dan kapan harus menggunakan metodenya. Pengujian A/B, Pengujian Multivarian, Pengujian URL Terpisah, dan Pengujian Multipage adalah 4 jenis pengujian. Dan Kita dengan membahas jenis pertama yaitu pengujian A/B.

 

Contoh A/B Testing (Pengujian A/B)

 

Lalu bagaimana dengan contoh pada Testing A/B. Untuk lebih lengkapnya berikut ini contoh A/B Testing (Pengujian A/B) :

  1. Discovery

    Discovery A/B menguji komponen pemutar video mereka untuk terlibat dengan “super fan” acara TV mereka. Hasil? Peningkatan keterlibatan video 6%.

  2. ComScore

    ComScore A / B menguji logo dan testimonial untuk meningkatkan bukti sosial pada halaman pendaratan produk dan meningkatkan arahan yang dihasilkan sebesar 69%.

  3. Secret Escapes

    Secret Escapes menguji variasi halaman pendaftaran ponsel mereka, menggandakan tingkat konversi dan meningkatkan nilai seumur hidup.

Baca Juga : Perbedaan Antara Web Developer Web Designer dan Web Master

 

Menggunakan A/B Testing  Bagi Startup

 

Penggunaan A/B Testing sangat populer pada industri skala kecil seperti startup, Hal ini karena dinilai lebih efektif dan mampu mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan user.  Startup umumnya dapat menciptakan suatu inovasi yang belum banyak digarap oleh industri mainstream, sehingga dalam pendekatannya ke user pun, diperlukan berbagai cara agar benar-benar paham apa yang sebenarnya mereka inginkan. Industri kreatif start up sangat fleksibel dalam mengikuti perkembangan teknologi di dunia.

Dengan menggunakan A/B Testing merupakan salah satu cara yang paling praktis dan efektif. Hal ini karena, anda tidak  memerlukan banyak tenaga dalam menggunakan A/B testing ini.  Bahkan, anda dapat mengetahui bagaimana performa yang didapatkan oleh dua buah produk yang sama-sama kita tawarkan pada user. Selain itu, A/B Testing juga memungkinkan kita untuk mengenali user lebih dalam dan membentuk persona untuk tujuan-tujuan lain yang lebih jauh.

 

Kesimpulan dan Penutup

Dalam membangun sebuah website yang berkualitas. Convertion rate merupakan sebuah tolak ukur keberhasilan sebuah website. Hal ini, dapat dibuktikan dengan data traffic pengunjung setiap harinya, hingga halaman dan konten seperti apa yang paling banyak dilihat.

A/B testing dapat membantu anda dalam meningkatkan convertion rate. Biasanya A/B Testing akan mengambil data dari Google Analytics, Omniture, Mixpanel. Sehingga anda dapat melihat pergerakan pengunjung yang datang ke dalam website anda setiap harinya.

Bahkan, dengan A/B testing, Anda bisa membuat keputusan berdasarkan data yang valid dari trial and error yang Anda lakukan. Anda dapat memilih salah satu tampilan UI dan UX yang paling disenangi pengunjung dengan A/B testing ini.

Related Post :

popup image