Ketahui Perbedaan Design Thinking vs Design Sprint

Web & Development

Apakah Anda pernah mendengar konsep Design Thinking? Memang banyak orang mengira ini adalah metode yang hanya digunakan oleh desainer. Akan tetapi, pada kenyataannya metode ini telah digunakan secara luas di berbagai sektor seperti bisnis, teknologi, pendidikan, bahkan layanan kesehatan. Dan seiring berkembangnya kebutuhan inovasi cepat, muncul metode lain yang serupa namun berbeda, yakni Design Sprint.  Lantas apa sebenarnya perbedaan antara Design Thinking dan Design Sprint? Sebelum Anda menerapkan salah satu atau keduanya, penting untuk memahami definisi, prinsip, tahapannya berikut!

Pengertian Design Thinking 

Design Thinking adalah proses berulang dimana Anda mencoba memahami pengguna, menantang asumsi, dan mendefinisikan kembali masalah dalam upaya mengidentifikasi strategi dan solusi alternatif yang tidak langsung terlihat di depan mata dengan tingkat pemahaman awal.

Secara umum, Design Thinking adalah sebuah pendekatan inovatif yang berfokus pada kebutuhan manusia untuk menciptakan solusi yang efektif dan berkelanjutan. Berbeda dengan metode tradisional yang berpusat pada produk, Design Thinking berpusat pada pengalaman pengguna. Hal ini akan menciptakan solusi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Maka dari itu, Design Thinking banyak diterapkan pada berbagai bidang, seperti bisnis, pendidikan, kesehatan, dan desain produk karena terbukti konsep ini efektif dalam memecahkan masalah kompleks dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat.

Lima Tahapan dalam Design Thinking

Design Thinking vs Design Sprint

Ada lima tahapan yang perlu untuk diketahui dalam design thinking yakni.

Empathize

Empathize merupakan tahap pertama untuk mendapatkan pemahaman empatik tentang masalah yang dicoba untuk diselesaikan. Tahap ini adalah upaya untuk merasakan dan memahami apa yang dipikirkan customer. Dalam empathize, dibagi lagi menjadi beberapa tahapan yaitu observe, engage, dan immerse. 

Define

Tahapan untuk menemukan masalah agar menghasilkan solusi yang berguna bagi konsumen adalah tahap define. Cara menemukan masalah adalah dengan mengamati dan menemukan pola masalah yang penting dari peta hasil empathize sebelumnya. Pada tahap ini, membantu Anda untuk mengumpulkan ide-ide hebat untuk membangun fitur, fungsi, dan elemen yang memungkinkan Anda untuk menyelesaikan masalah

Ideate

Langkah ketiga dalam Design Thinking adalah mengumpulkan ide, lalu menentukan dan mencari solusi tentang masalah yang ada. Brainstorming akan melahirkan ide-ide inovatif yang diinginkan untuk memecahkan masalah. Untuk menemukan solusi, dapat menggunakan beberapa tools atau alat, misalnya mind mapping (kerangka berpikir) dan brainstorming.

Prototype

Tahap Prototype dibutuhkan agar gagasan dapat dilihat dan dirasakan oleh panca indera. Tujuannya agar ide lebih mudah dipelajari dan dievaluasi. Contoh prototype yang dibuat yaitu sketsa, gambar, miniatur, dan mockup. Prototype dapat diujikan oleh tim sendiri atau sekelompok orang diluar tim. Ini merupakan fase eksperimental yang tujuannya untuk mengidentifikasi solusi terbaik dari setiap masalah.

Test

Langkah terakhir dalam Design Thinking adalah tes atau pengujian prototype ke konsumen. Minta konsumen Anda untuk mencoba eksplore prototype selanjutnya tanyakan feedback yang dijadikan sebagai evaluasi. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk perbaikan atau perancangan kembali prototype hingga hasilnya dirasa cukup baik. Terdapat tiga prinsip utama dalam melakukan testing, yaitu: Show don’t tell, create experience, ask users to compare.

Baca juga: Manfaat Design Thinking dalam Pekerjaan dan Bisnis

Prinsip Utama Design Thinking 

Setelah mengetahui tahapannya, mari pelajari beberapa prinsip utamanya berikut ini.

Human-Centered

Sesuai dengan namanya prinsip ini melalui pendekatan yang berpusat pada manusia atau disebut human centered yaitu, mendefinisikan masalah dengan empati dan wawasan, melibatkan pengguna, dan pemangku kepentingan dalam proses ideasi dan pengujian.

Prototyping Culture

Budaya prototyping adalah budaya yang menghargai dan mendorong pembuatan prototype dalam proses desain dan pengembangan produk. Budaya ini menekankan pentingnya belajar melalui eksperimen dan literasi. Ini diperlukan untuk memahami kebutuhan pengguna dan mendapatkan feedback dari mereka.

Creativity & Iteration

Selanjutnya adalah kreativitas yang tinggi. Anda diperbolehkan untuk mengembangkan ide yang sangat banyak dan kreatif agar menghasilkan solusi terbaik. Sedangkan Iterasi adalah proses perencanaan, pengembangan, pengujian, dan evaluasi yang berulang kali sampai mencapai hasill yang diinginkan. Seperti yang kita tahu, tidak ada ide awal yang sempurna, sehingga melalui iterasi diharapkan akan menghasilkan solusi yang paling sesuai untuk pengguna.

Hands-On 

Hands on dalam design thinking adalah pengujian secara langsung kepada pengguna untuk mengetahui bagaimana respon pengguna terhadap ide yang ditawarkan.

Baca juga: Mengenal Joint Application Design dalam Pengembangan Sistem

Pengertian Design Sprint

Design Sprint adalah pendekatan berbasis waktu yang dikembangkan oleh Google Ventures. Ini adalah proses intensif selama 5 hari yang dirancang untuk menjawab pertanyaan bisnis kritis melalui desain, pembuatan prototipe, dan pengujian ide dengan pengguna. Design Sprint menggunakan prinsip Design Thinking namun dalam format yang lebih terstruktur dan singkat. Cocok digunakan ketika tim ingin memvalidasi ide dengan cepat dan efisien, terutama dalam pengembangan produk digital.

Tahapan Design Sprint

Ada beberapa tahapan dari design sprint yang perlu untuk diketahui.

Understand

Tahap yang pertama yaitu understand. Tahap ini dilakukan di hari pertama untuk menyamakan sebuah persepsi terhadap suatu pembahasan produk. Di tahap ini, dilakukan sesi wawancara ke sejumlah pengguna maupun calon pengguna. Hasil yang telah didapatkan dari wawancara tersebut akan digunakan sebagai bahan diskusi dengan seluruh anggota tim.

Diverge

Tahap selanjutnya yaitu diverge. Tahap ini dilakukan di hari kedua dimana individual dari setiap tim memberikan ide atau gagasan sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, mereka harus melakukan rancangan di sebuah kertas yang masih berupa rancangan kasar dengan tujuan supaya orang lain bisa mendapatkan bayangan tentang bagaimana ide tersebut diaplikasikan.

Decide

Tahap di hari ketiga yaitu decide. Dalam tahap ini tim berkumpul untuk memutuskan rancangan terbaik dengan cara melalui voting. Rancangan dengan jumlah voting terbanyak akan diperbaiki menjadi sebuah desain rapi dari sebelumnya sebagai proses untuk membuat prototipe.

Prototype

Tahap keempat yang dilaksanakan di hari keempat yaitu prototype. Pada tahap ini tim developer akan membuat prototipe berdasarkan desain yang telah disetujui. Protitipe ini disusun dengan cepat untuk menampilkan usabilitas produk yang selanjutnya akan diluncurkan.

Validate

Tahap yang dilaksanakan di hari kelima atau hari terakhir yaitu validate. Pada tahap yang dilakukan di hari terakhir ini, prototipe diuji langsung ke calon pengguna. Setelah mendapatkan hasil validasi yang telah dilakukan, hasil tersebut digunakan sebagai dasar penentuan proses iterasi.

Kapan Design Sprint Digunakan?

Sebuah perusahaan maupun Anda yang sedang menjalani proses mendesain, tentu dapat menggunakan metode ini kapan saja. Design Sprint sangat fleksibel dan efektif untuk berbagai kebutuhan dalam pengembangan produk. Metode ini dapat diterapkan sejak awal proyek bisnis untuk membantu menentukan nilai atau keunggulan yang ingin ditawarkan melalui produk Anda, sekaligus menciptakan visi bersama dalam tim.

Selain itu, metode ini juga sangat berguna ketika perusahaan mengalami hambatan atau ketika tim membutuhkan dorongan kecepatan agar proses pengembangan berjalan sesuai target waktu. Secara umum, Design Sprint tepat digunakan saat: memulai proyek untuk menentukan keunggulan produk, menemui kebuntuan atau hambatan, dan membutuhkan akselerasi dalam pengembangan.

Baca juga: Mengenal Perbedaan Antara Web Developer dan Web Designer

Perbedaan Design Thinking vs Design Sprint 

Berikut perbandingan Design Thinking vs Design Sprint

Fokus

Dari aspek fokusnya Design Thinking lebih mengeksplorasi mendalam terhadap kebutuhan dan masalah pengguna. sedangkan Design Sprint berfokus pada penyelesaian masalah spesifik secara cepat. Sehingga bisa dikatakan Design Thinking menyeluruh, Design Sprint terarah dan cepat.

Durasi

Dari segi durasinya, Design Thinking bersifat fleksibel dan bisa memakan waktu berminggu-minggu. Sedangkan Design Sprint terstruktur hanya dalam 5 hari. Oleh karena itu, Design Sprint lebih cocok untuk kebutuhan terbatas waktu.

Tujuan

Jika dilihat dari tujuannya, Design Thinking menghasilkan inovasi berkelanjutan dengan pemahaman mendalam. Sedangkan Design Sprint menguji dan memvalidasi ide dalam waktu singkat. Sehingga Design Thinking cocok untuk jangka panjang, Design Sprint untuk validasi cepat.

Tahapan

Jika pada Design Thinking ada 5 langkah yaitu Empathize, Define, Ideate, Prototype, Test. Sedangkan pada Design Sprint  difokuskan pada ideasi, prototyping, dan testing selama 1 minggu. Dengan demikian Design Sprint adalah versi singkat dan fokus dari Design Thinking.

Waktu Digunakan

Design Thinking digunakan aat menghadapi masalah kompleks dan belum jelas solusinya. Sedangkan Design Sprint digunakan saat ide sudah ada dan ingin diuji secepat mungkin. Jadi, Anda bisa menggunakan Design Thinking untuk eksplorasi awal, Sprint untuk eksekusi cepat.

Keterlibatan Tim

Design Thinking memang melibatkan banyak pihak secara inklusif dalam proses berulang. Berbeda dengan Design Sprint yang hanya mengandalkan tim kecil dan fokus dalam waktu intensif. Oleh karena itu Design Thinking untuk kolaboratif jangka panjang, Sprint tim kecil intensif.

Penutup

Design Thinking dan Design Sprint bukanlah dua metode yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi. Design Thinking cocok untuk proses jangka panjang, eksploratif, dan pengembangan produk secara menyeluruh. Sementara Design Sprint cocok untuk proses cepat, eksperimental, dan fokus pada validasi ide sebelum terlalu banyak sumber daya dikeluarkan.

Jika Anda ingin membangun solusi berbasis teknologi secara efisien dan cepat, metode Design Sprint sangat cocok untuk tim startup. Namun jika Anda ingin menciptakan inovasi yang lebih mendalam dan berpusat pada kebutuhan pengguna, maka Design Thinking adalah jawabannya.

Mulailah membangun website untuk bisnis Anda. Dengan membangun website, membuat bisnis Anda terlihat lebih profesional di mata konsumen. Anda dapat menggunakan layanan  Server VPS IDCloudHost yang profesional dengan dukungan storage NVME, jaminan uptime optimal membuat akses website dan aplikasi Anda jauh lebih cepat.